Breaking News:

Berita Banjarmasin

Pelabuhan Ditutup untuk Penumpang, Porter di Banjarmasin Tunggak Kontrakan

Selama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin tertutup untuk penumpang, tidak ada pekerjaan bagi porter untuk mengangkut barang sehingga tidak ada pemasukan.

BANJARMASINPOST.CO.ID/DANTI AYU
Para porter di terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (13/5/2020). 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ditutupnya Pelabuhan Trisakti Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk penumpang tidak hanya berimbas kepada para pemudik melainkan juga para porter atau pengangkut barat penumpang.

Diakui Hadi, porter yang sehari-harinya bekerja di Terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti, pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp 10 juta saat memasuki H-7 Idul Fitri.

"Ibarat kalau petani, bagi kami, musim mudik ini ya musim panen. Paling ditunggu dalam satu tahun itu. Apalagi kalau sudah H-7,  saya bisa dapat Rp 5 juta bahkan sampai Rp 10 juta. Tergantung banyaknya penumpang karena inikan pekerjaannya juga rebutan dengan teman," tutur Hadi kepada Banjarmasinpost.co.id, Rabu (13/5/2020).

Namun sayang, Ramadhan kali ini Hadi tidak seberuntung sebelumnya. Jangankan keuntungan yang berlimpah, ia bahkan  harus menjual telepon handphone satu-satunya untuk memenuhi biaya kehidupan sehari-hari.

"Selama pelabuhan ditutup, tidak ada pemasukan. Saya terpaksa jual telepon genggam karena uang sudah habis sama sekali," imbuhnya.

VIDEO Pelabuhan Trisakti Masih Belum Dibuka untuk Penumpang

Jumlah ODP Covid-19 di Kalsel Berkurang, GTP2 Sebut Pengaruh Penutupan Akses Bandara & Pelabuhan

Aktifitas Mudik Idul Fitri 1441 H di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Ditiadakan

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Ditutup hingga 8 Juni, Kirana IX Jadi Kapal Terakhir

Ditutupnya pelabuhan untuk penumpang memberikan dampak yang cukup besar bagi Hadi. Mengingat, pekerjaan tersebut adalah satu-satunya sumber mata pencaharian mereka dan tempat mereka menggantungkan diri serta keluarga.

"Kalau situasi begini, tidak ada pemasukan. Bahkan ada teman yang terpaksa menggadaikan sepeda motor, barang, tidak bisa bayar rumah, bayar air, bayar listrik, macam-macamlah pokonya," jelas Hadi.

Selama pelabuhan ditutup, Hadi dan porter lainnya hanya bisa pasrah sambil menunggu di sekitaran pelabuhan, jika ada perusahaan atau relawan yang membagikan bantuan kepada warga disekitaran lokasi tersebut.

Selain Hadi, ada pula Mahyudi yang terpaksa menunggak tagihan biaya kontrakan rumah dan air selama dua bulan akibat hilangnya pemasukan sejak pelabuhan ditutup pada 24 April lalu.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved