Berita HST

Sidang Vonis Nabi Palsu, Ini Vonis Hukuman dari Hakim untuk Nasrudin

Sidang vonis nabi palsu asal Kahakan Kecamatan Batu Benawa HST memutuskan Nasrudin harus menjalani rehab di Rumah Sakit Jiwa, di Gambut Kabupaten

banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi
Sidang vonis terdakwa nabi palsu Nasrudin di Pengadilan Negeri Barabai, Rabu (13/05/2020) 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sidang vonis Nasrudin nabi palsu asal Kahakan Kecamatan Batu Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Nadrudin bin H Darsani, digelar, Rabu (13/5/2020) di Pengadilan Negeri, Barabai.

Alhasil, majelis hakim memutuskan jika Nasrudin harus menjalani rehab di Rumah Sakit Jiwa, di Gambut Kabupaten Banjar dan membebankan seluruh biaya pengobatan kepada negara selama setahun.

Vonis Nasrudin direhab di Rumah Sakit Sambang Lihum bukan tanpa alasan, majelis hakim yang terdiri dari Hakim Ketua Eka Ratna Widiastuti serta Hakim Anggota Ariansyah dan Novita Witri memberikan keputusan tersebut karena Nasrudin dianggap tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pidana.

Nasrudin dianggap tak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya karena divonis mengalami gangguan jiwa waham menetap.

Iuran BPJS Kesehatan Naik Lagi, Alasan Utama Pemerintah Demi Operasional Lancar

Polisi Temukan 40 Ekstasi dalam Kamar Hendra di Wildan Sari Banjarmasin

PSBB Kabupaten Banjar, Dijalankan dengan Tiga Konsep, Petugas Jaga Perbatasan 24 Jam

Apalagi, Saksi ahli dari RSUD Hasan Basri Kandangan. dr SOfyan Saragih, Sp.KJ pada sidang kelima lalu membeberkan jika melakukan observasi terhadap Nasrudin selama 27 hari sejak 9 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020. Dari diagnosanya Nasrudin mengalami gangguan jiwa berat dengan kategori waham menetap.

Apa itu waham menetap? Gangguan waham menetap, atau dikenal sebagai persistent delusional disorder, merupakan gangguan mental yang jarang ditemukan dengan waham sebagai satu-satunya gejala utamanya. 

Menurutnya, Nasrudin memiliki gangguan isi pikir berupa keyakinan yang salah, tidak realistis, tidak bisa dikoreksi atau digoyahkan, sangat diyakini, dan tidak sesuai dengan budaya. 

Menurutnya, dari segi kehidupan dia normal. Tak tampak gangguan. Tapi ketika menyangkut keyakinan, dia selalu konsisten dan menyebut hal yang sama.

Berdasarkan hal ini, hakim memutuskan jika Nasrudin harus direhab. Selain itu, hasil observasi saksi ahli jiwa juga dianggap kurang mengingat pemeriksaan lanjutan MRI tak dapat dilakukan mengingat biaya yang besar. Meski dalam pemeriksaan gelombang otak melalui EEG ada perlambatan.

Rumah Terbakar di Kabupaten HST, Delapan BPK Bantu Pemadaman

Rahasia Amalan di Malam Lailatul Qadar Dibahas Ustadz Adi Hidayat, Ini Keistimewaannya

Halaman
12
Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved