Wabah Virus Corona
Daftar Negara Maju yang Mulai 'Miskin', Pertumbuhan Ekonomi Jepang, Amerika dan China Minus
Dilansir dari BBC pertumbuhan ekonomi Jepang dilaporkan minus 3,4 persen pada periode Januari-Maret 2020
Editor : Didik Trio Marsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, TOKYO - Jepang resmi mengalami resesi ekonomi. Hal ini sejalan dengan dampak virus corona yang memukul perekonomian terbesar ketiga di dunia tersebut.
Dilansir dari BBC, Senin (18/5/2020), pertumbuhan ekonomi Jepang dilaporkan minus 3,4 persen pada periode Januari-Maret 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ini merupakan penurunan terbesar sejak tahun 2015.
Kontraksi pertumbuhan ekonomi Jepang ini pun menyusul pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2019 yang mencapai minus 6,4 persen.
• Daftar Mobil Bekas Rp 20 Jutaan Sudah Dapat Honda Civic sampai Toyota Corolla
• Berikut Jadwal Lengkap Libur Idul Fitri 1441 H, 4 Hari Cuti Bersama Digeser ke Akhir Tahun 2020
• Warga Banjarmasin Terjebak di Nepal, Terkatung-katung dan Kehabisan Uang, Ibnu Sina Lakukan Ini
Pertumbuhan ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut merupakann deskripsi teknikal resesi ekonomi.
Jepang bergabung dengan Jerman yang pekan lalu juga resmi masuk ke jurang resesi ekonomi.
Jepang tidak memberlakukan lockdown secara nasional untuk mencegah penyebaran virus corona, namun mengumumkan kondisi darurat pada April 2020. Hal ini memberikan dampak yang sangat buruk bagi rantai apsok dan bisnis di Jepang.
Sementara itu, berdasarkan warta Bloomberg, capaian perekonomian Jepang tersebut lebih baik dari perkiraan sebelumnya, yakni minus 4,5 persen. Ini dibantu oleh konsumsi yang lebih kuat dari prediksi dan belanja swasta sebelum virus corona menyebar.
Namun demikian, para analis dan pembuat kebijakan setuju bahwa kondisi lebih buruk terjadi pada kuartal ini.
"Tidak diragukan lagi bahwa kuartal ini (kondisi) jauh lebih buruk. Perusahaan-perusahaan susah payah mengamankan pembiayaan dan ini menunjukkan investasi bisnis akan tetap lemah, serta banyak pekerja khawatir dengan upah mereka," ujar Takeshi Minami, ekonom di Norinchukin Research Institute.
Para analis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jepang akan minus 21,5 persen pada periode April-Juni 2020. Ini merupakan rekor terburuk sejak data ekonomi resmi dirilis pertama kali pada 1955.
Kondisi ekonomi yang lesu ini membuat pemerintah Jepang mengeglontorkan stimulus sebesar 117 triliun yen atau 1,1 triliun dollar AS, setara sekira Rp 16.379 triliun.
Angka tersebut setara dengan lebih dari 20 persen dari produk domestik bruto (PDB) Jepang.
Dalam laporan yang dirilis pemerintah Jepang hari ini, ekspor tercatat merosot hampir 22 persen secara tahunan pada kuartal I 2020. Ini adalah penurunan terbesar sejak tsunami menerjang Jepang pada 2011 silam.
Meskipun terkesan mengalami krisis, namun kondisi Jepang sedikit lebih baik dibanding ekonomi-ekonomi utama dunia lainnya.
China melaporkan pertumbuhan ekonomi minus 6,8 persen pada kuartal I 2020. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat minus 4,8 persen pada Januari-Maret 2020.
Daftar negara maju yang mulai jatuh miskin:
1. Pertumbuhan ekonomi Jepang minus 3,4 persen.
2. Pertumbuhan ekonomi China minus 6,8 persen.
3. Pertumbuhan ekonomi Amerika minus 4,8 persen.