Wabah Virus Corona

Dibayar Murah dengan Taruhan Nyawa, 60 Tenaga Medis Mogok Kerja Saat Diminta Tangani Pasien Corona

Sebanyak 60 tenaga medis berstatus honorer di RSUD Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggelar aksi mogok kerja

Handout
Rumah Sakit Umum Daerah Ogan Ilir Sumatera Selatan 

Editor : Didik Trio Marsidi

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebanyak 60 tenaga medis berstatus honorer di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggelar aksi protes dengan cara melakukan mogok kerja.

Hal itu dilakukan menyusul adanya tambahan tugas untuk menangani pasien positif corona.

Menurut sumber Kompas.com, resiko yang diterima petugas medis tersebut tak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima.

Sebab, gaji mereka hanya Rp 750.000 per bulan. Ditambah lagi alat pelindung diri (APD) di rumah sakit tersebut minim dan tidak disediakan rumah singgah.

Bahkan, insentif yang dijanjikan pemerintah daerah setempat dinilai juga tidak jelas.

UPDATE Corona Dunia Senin 18 Mei: 4,8 Juta Terinfeksi, India Terpaksa Perpanjang Lockdown

Ternyata Kucing Bisa Terinfeksi Virus Corona, Peneliti: Bisa Tularkan ke Kucing Lain Tanpa Gejala

Karena alasan itu, para tenaga medis tersebut memilih untuk mogok kerja.

Akibat aksi protesnya itu, mereka dianggap mengundurkan diri oleh pihak RSUD.

“Tenaga paramedis tidak mau melaksanakan perintah pihak rumah sakit karena tidak ada surat tugas, selain itu tidak ada kejelasan soal insentif bagi mereka. Mereka hanya menerima honor bulanan sebesar Rp 750 ribu, sementara mereka diminta juga menangani warga yang positif Covid-19,” jelas sumber tersebut.
Bantahan RSUD


Ilustrasi rumah sakit(SHUTTERSTOCK)

Terpisah, Direktur RSUD Ogan Ilir Roretta Arta Guna Riama membenarkan adanya aksi mogok kerja yang dilakukan tenaga medis berstatus honorer tersebut.

Namun demikian, pihaknya menganggap bahwa tudingan yang disampaikan oleh mereka terkait ketersedian APD, rumah singgah, dan insentif dianggap mengada-ada.

Mereka yang protes dinilai hanya karena ketakutan saat diminta menangani pasien corona.

“Mereka lari ketakutan saat melihat ada pasien yang positif Covid-19," jelas Roretta

“Tidak ada tenaga dokter, mereka para tenaga medis seperti perawat dan sopir ambulans, mereka itu takut menangani pasien positif Covid-19, itu saja, bukan karena soal lain,” tambah Roretta.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved