Fikrah

Strategi Menggapai Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung, yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan, para malaikat turun ke bumi, terutama malaikat Jibril

istimewa
KH Husin Nafarin 

Oleh: KH. Husin Naparin, Lc. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP orang-orang beriman dan bertakwa mengharapkan Lailatul Qadar. Disebabkan Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat agung dan terdapat bermacam-macam keistimewaan yang tidak terdapat di malam-malam yang lain di luar bulan Ramadan. Terlebih, dalam suasana Ramadan tahun ini, di tengah-tengah umat Islam menghadapi sebaran wabah Covid-19, makna Lailatul Qadar menjadi penting untuk kita perkuat.

Apa hakikat Lailatul Qadar? Kapan waktu turunnya? Apa tanda-tanda? Bagaimana cara mendapatkannya? Apa tanda-tanda seseorang mendapatkannya? Dan doa apa yang dibaca ketika mendapatkannya?

Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung, yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan, para malaikat turun ke bumi, terutama malaikat Jibril, kedamaian sampai terbitnya fajar dan doa- doa orang beribadah terkabulkan.

Ulama berbeda pendapat tentang waktu turunnya Lailatul Qadar hingga 40 pendapat. Ada yang menyatakan Lailatul Qadar turun 15 Sa’ban, tanggal 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan, Lailatul Qadar turun pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu tanggal 21, 23, 25 dan 27 (HR Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Rasulullah SAW bersabda: “Usahakanlah mendapatkan Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di 10 yang terakhir dari bulan Ramadhan”.

Turunnya Lailatul Qadar ditandai ada yang tampak pada malam hari dan ada yang tampak pada pagi hari. Pada malam hari langit tampak cerah, seakan-akan ada bulan di langit, bintang-bintang tampak jelas, udara terasa sejuk, angin tenang serta suasana tenang dan tenteram. Pagi hari matahari tampak kekuning-kuningan bagaikan emas dan tidak menyilaukan mata, karena pada waktu itu iblis tidak keluar.

Cara mendapatkan Lailatul Qadar. Pertama, sejak awal Ramadan melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, niat ikhlas semata-mata mengharapkan rida Allah SWT, menghindari segala perbuatan maksiat dan banyak ibadah kepada Allah. Kedua, pada malam-malam ganjil 10 terakhir beriktikaf di masjid jami, yaitu masjid yang ditempati salat Jumat. Dalam kondisi tertentu bisa melaksanakan iktikaf di masjid ghairu jami’, yaitu masjid yang bukan ditempati salat Jumat. Dalam istilah masyarakat Indonesia masjid ghairu jami’ adalah musala, baik itu mushalla umum, yang dibuat oleh masyarakat maupun musala khusus salat, yaitu tempat yang dikhususkan untuk melaksanakan salat, yang ada di rumah masing-masing.

Ketiga, pada malam-malam ganjil, yakni 10 hari yang terakhir tidak tidur sampai terbitnya fajar, minimal dari separuh malam itu sampai terbitnya fajar. Dalam hal ini, meraih Lailatul Qadar perlu menyiapkan stamina yang cukup.

Keempat, selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan karunia mendapatkan Lailatul Qadar. Selain ketiga langkah itu, keistimewaan Lailatul Qadar dapat kita raih dengan doa yang sungguh-sungguh, dengan hanya berharap kepada Allah.

Mendapatkan Lailatul Qadar ditandai dengan; Pertama, mendengarkan suara salam, yang mana dia sadar bahwa suara salam tersebut dari malaikat, bukan dari manusia. Kedua, doa-doa yang diminta/dimohonkan kepada Allah menjadi kenyataan, misalnya berdoa supaya diberikan kesehatan, ternyata betul-betul sehat. Ketika kita berdoa agar mendapatkan anak yang saleh, ternyata betul-betul mempunyai anak yang saleh. Imam al Qurthubi dalam kitabnya Al Jami’ Al Quran menyatakan, kadang-kadang orang yang mendapatkan Lailatul Qadar tidak melihat tanda-tanda tersebut.

Siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah SAW, “wahai Rasulullah! Apa doa yang dibaca ketika aku mendapatkan Lailatul Qadar?” Rasulullah SAW menjawab,“Wahai Aisyah! bacalah doa Allahumma innaka afuwwun Kariim tuhibbul afwa fa’fu Anni ya kariim”.

Bersungguh- sungguhlah agar mendapatkan Lailatul Qadar dengan cara berdoa dan beribadah kepada Allah SWT sekalipun dalam kondisi berperang melawan wabah virus corona, dengan menghindari segala perbuatan maksiat, banyak ibadah kepada Allah SWT dan berdoa kepada Allah SWT, agar dikaruniai mendapatkan Lailatul Qadar. (Sumber Dr Abdul Wadud Nafis Lc MEI, Dosen Pascasarjana IAIN Jember)

Demikian, kemarin malam Rabu malam Kamis 27 Ramadan, kami sekeluarga keluar rumah menyaksikan langit; Anak penulis, Evi Amiarsa, melihat ke langit, ia menyaksikan sekilas langit terbelah seperti kilat menyambar sedang kami yang lain bersamanya tidak melihat apa-apa. Apakah itu merupakan tanda ia melihat Lailatu Qadar, wallahu a’lam.]

Diriwayatkan, Syekh Abdul Qadir al-Jilani becerita dihadapan murid-muridnya bahwa malam 27 Ramadhan, beliau keluar rumah. Tiba-tiba saja alam terang benderang luar biasa. Lalu muncul suara “ya Abdal-qadir, ana rabbuka qad hallaltu lakal-muharramat. wahai Abdul Qadir aku adalah Tuhan-mu; Aku halalkan kepadamu hal-hal yang diharamkan bagi orang lain. Mendengan hal itu, Syekh Abdul Qadir berkata dengan keras, ikhsa ya la’in, wahai iblis laknatullah, menjauh kau dariku. Tiba-tiba saja cahaya benderang berubah menjadi gelap-pekat tang luar biasa. Timbul pula suara, “Kau selamat dari tipu-dayaku berkat makrifatmu yang tinggi kepada Allah SWT. Aku Telah menyesatkan banyak ahli tarikat dengan caraku ini. Murid-murid beliau bertanya, Guru, bagaimana kamu tahu bahwa itu setan. Beliau menjawab dengan perkataannya, Aku halalkan buatmu apa yang diharamkan bagi orang lain, karena hukum Tuhan itu sama, kalau halal, maka halal buat semua dan kalau haram, maka haram buat semua. tidak ada seorangpun yang mendapat desfensasi, Rasulullah SAW bersabda, lau fathimah bintturasul saraqat laqatha’tu yadaha, seandainya fatima puteri Rasul mencuri niscaya akan aku potong tangannya (HR Bukhari). (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved