Opini Publik

Berzakat Fitrah Via Online Fleksibilitas Islam Tanpa Menghilangkan Makna

Shaikh Yusuf Qardawi telah membolehkan zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk uang yang setara dengan 1 sha’ gandum

 Oleh: Mairijani,  Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID - MEWABAHNYA corona semenjak Desember 2019 lalu di Wuhan China telah menjangkiti hampir seluruh wilayah di dunia, tidak kurang hampir 185 negara. WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia beberapa waktu lalu juga telah resmi menyatakan bahwa Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 sebagai pandemi global. Data resmi Kompas.com hingga pertengahan Mei 2020 menyebutkan, 4,8 juta orang di dunia telah terinfeksi, 316.507 orang meninggal dunia, sementara 1,8 juta pasien telah dinyatakan sembuh. Wabah inipun telah mengancam dan menyeret bukan hanya aspek kesehatan, tetapi berimbas pada semua aspek, baik ekonomi, sosial, dan aspek lainnya.

Di Indonesia, pandemi corona membuat perekonomian cenderung lesu, hal ini bisa dilihat dari penurunan angka produksi, ekspor, investasi hingga konsumsi. Multi efek covid-19 juga mempengaruhi pada bertambah angka kemiskinan sekitar 1,16 – 3,78 juta orang miskin baru, begitu pula halnya dengan angka pengangguran naik 2,92 – 5,23 juta. Potensi badai lainnya pun siap menerjang masyarakat berupa kekurangan bahan pangan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyuarakan bahwa wabah covid bisa berakibat pada krisis pangan dunia. (Ekonomi.okezone.com: 19/4)

Untuk memutus mata rantai covid-19 yang kian hari kian merajalela, maka diberlakukanlah sejumlah aturan dan kebijakan, mulai jaga fisik alias social distancing/at taba’ud al ijtima’i, sampai diberlakukannya Peraturan Pemerintah No 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keppres No 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, akhirnya Ibukota Jakarta mengawali diberlakukannya PSBB, kemudian disusul beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Bahkan sebelum PSBB diberlakukan semua institusi pendidikan mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai Perguruan Tinggi semenjak akhir Maret 2020 sudah memberlakukan belajar secara online/daring, tidak ketinggalan jama’ah sholat di mesjid/mushalla-pun ikut pula menjaga jarak shaf. Empat belas abad yang lalu bahkan Nabi Muhammad SAW sudah menuntunkan sebagaimana sabda beliau: “Jangan orang yang sakit dicampurbaurkan dengan orang yang sehat.” (HR Muslim)

Zakat Fitrah via Online

Ibadah adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kaum muslimin, sebagai bukti ketaatannya kepada perintah Allah dan mengikuti sunnah Nabi SAW. Menjelang Idul Fitri, biasanya ramai kaum muslimin berbondong-bondong menuju mesjid atau langgar untuk mendatangi Amil Zakat Fitrah yang siap melakukan qabul (penerimaan) dan sekaligus bertugas mentasarrufkan kepada mustahiq zakat fitrah, yaitu faqir dan miskin.

Zakat fitrah (baca: zakatul fithri) adalah kewajiban bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki atau perempuan, hamba sahaya atau merdeka, anak kecil sampai orang dewasa, memberikan atau mensedekahkan sebagian harta (berupa makanan pokok) yang menandai selesainya ibadah puasa/kembalinya seseorang berbuka setelah memasuki 1 syawwal.

Dalam kondisi masih tersebarnya covid-19 seperti sekarang dan mengharuskan perenggangan sosial (social distancing/at taba’ud al ijtima’), maka pembayaran dan penyaluran zakat fitrah yang bisa melibatkan banyak orang sudah semestinya dihindari, agar terhindar dari mudharat covid-19. Sebagaimana Nabi pernah bersabda: “Jangan membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.” (HR Malik dan Ahmad)

Dengan kejadian ini, masyarakat-pun bingung dan jadi bertanya, dapatkah zakat fitrah dilakukan melalui sarana online agar social distancing/at taba’ud al ijtima’ tetap terjaga.

Sebelum pembahasan zakat via online, para ulama telah sepakat tentang kebolehan zakat berupa uang. Diantaranya Shaikh Yusuf Qardawi telah membolehkan zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk uang yang setara dengan 1 sha’ gandum, kurma atau beras. Nominal zakat fitrah yang ditunaikan dalam bentuk uang, menyesuaikan dengan harga beras yang dikonsumsi. Begitu pula Syaikh Sayyid Sabiq membolehkan zakat fitrah dengan mengeluarkan harganya, karena zakat adakah hak faqir, maka menurutnya tidak ada bedanya antara harganya atau zatnya. (Fiqhus Sunnah, 1/413). Syaikh Wahbah Az Zuhaili juga membolehkan, baik berupa dirham, dinar, fulus, atau barang berharga, atau apa saja yang dia mau, karena yang menjadi hakikat adalah kewajiban mencukupi kebutuhan orang faqir, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Penuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mereka berkeliling (untuk minta-minta) pada hari ini.” Dan, memenuhi kebutuhan mereka sudah tertutup dengan memberikan harganya, bahkan itu lebih sempurna, lebih cepat, dan lebih mudah, karena hal itu lebih dekat untuk mentunaikan kebutuhan, maka penjelasannya adalah bahwa nash menyebutkan adanya ‘ilat (sebab) yaitu memenuhi kebutuhan mereka. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/2044)

Lalu bagaimana zakat fitrah berupa uang dilakukan via online, bagaimana akad serah terimanya?

Saat ini kemajuan teknologi informasi mempengaruhi semua sarana transaksi, transaksi via online sudah menjadi pilihan gaya hidup masyarakat modern. Selain mudah dan efektif, transaksi via online terjamin keamanannya.

Dengan keadaan pandemic covid-19, maka zakat fitrah via online bisa menjadi pilihan bagi kaum muslimin yang ingin mengeluarkan zakat-nya menjelang hari raya idul fitri. Transaksi dalam zakat merupakan transaksi sosial (tabarru’at) yang tidak mengharuskan adanya ijab dan qabul seperti dalam transaksi komersial. Jikalau dianjurkan adanya ijab dan qabul, pembayaran zakat online sudah ada layanan khusus berupa notifikasi dan lainnya berisi bukti pembayaran zakat. Dalam hukum Islam dikenal ada 4 macam ijab dan qabul, yaitu berupa ucapan, perbuatan, tulisan dan isyarat. Transaksi via online telah memenuhi rukun yaitu ijab dan qabul berupa tulisan. Adapun yang menandai qabul adalah dengan sampainya dana zakat ke pihak Amil Zakat (perpindahan) maka secara hukum itu sudah diakui sebagai qabul yang telah disepakati oleh mayoritas fuqaha.

Pandemic covid-19 memang telah banyak menyebabkan dampak bagi kehidupan masyarakat dalam semua aspek, tetapi tentunya makna dari ibadah tersebut tetap terlaksana. Wallahu a’lam bi al-sawab. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved