Tajuk

Ada PSBB, Corona Tetap Melejit

Menyikapi masih merebaknya Covid-19, memang tak lantas PSBB harus dihentikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - LEBARAN Idulfitri 1441 H baru saja berlalu. Tentu, tahun ini perayaan hari kemenangan bagi umat Islam sangatlah berbeda. Tidak ada, kemeriahan lebaran, suasana mudik, silaturahmi dan sungkeman seperti yang biasa berlangsung di setiap lebaran.

Covid-19 membuat kita wajib disiplin melakukan social distancing. Karena hingga kini, Kalsel masih termasuk zona merah. Kurva angka kasus Covid-19 di daerah ini masih terus meningkat.

Hingga 25 Mei 2020, jumlah positif covid-19 di Kalsel sudah menembus 603 kasus dengan rincian dalam perawatan 460 orang, sembuh 80 orang dan meninggal 63 orang. Angka ini, tentu masih sangat mengkhawatirkan.

Ayah Olga Syahputra Pukul Meja Gegara Billy Mau Jual Rumah Ke Raffi Ahmad

Pramugari Cantik Pakai Kode Khusus Ini Sebagai Tanda Pesawat Bawa Mayat

Ungkap Masa Lalu, Kontroversi Foto Merokok dan Bertato Han So Hee Akhirnya Angkat Bicara

Kota Banjarmasin menjadi yang tertinggi dengan 226 kasus, disusul Tanahbumbu 113 kasus serta Batola 62 kasus. Sejumlah daerah, hingga kini juga masih memperlihatkan tren peningkatan jumlah penderita Covid-19.

Pesatnya angka Covid-19 di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi indikator bahwa program ini tidak berjalan efektif.

Penjagaan di pintu masuk antar daerah yang selama ini berlangsung tak mampu menekan laju angka penyebaran Covid-19. Terbukti, setelah klaster Gowa, muncul klaster baru seperti klaster Pasar Antasari, dan Klaster Pekapuran.

Lemahnya, pengawasan dalam hal penerapan protokol covid-19 di titik-titik keramaian seperti pasar, pusat perbelanjaan hingga di level rukun tetangga membuat virus ini melenggang dengan mudah berpindah dari satu korban ke korban berikutnya.

Menyikapi masih merebaknya Covid-19, memang tak lantas PSBB harus dihentikan. Tetapi, mungkin bisa diterapkan model lain yang lebih konfrehensif.

Pemerintah, bisa membentuk posko-posko pencegahan Covid-19 di titik-titik keramaian seperti pasar ataupun pusat perbelanjaan. Atau bila perlu hingga ke tingkat RT. Libatkan masyarakat atau bila perlu aparat untuk melaksanakan kebijakan ini.

Masjid dan langgar yang selama ini tutup, mungkin sudah saatnya diberikan kelonggaran untuk melaksanakan peribadatan. Syaratnya, melaksanakan protokol covid-19. Dengan pola ini, pemerintah tidak lagi sendiri melawan Covid-19. Ada dukungan masyarakat yang turut terlibat langsung dalam pencegahan. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved