Opini Publik

Wirausaha di Tengah Covid-19 dan Krisis

Bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, adanya pandemi dan krisis, justru adalah sebuah tantangan

Oleh: Titien Agustina, Ketua STIMI Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENJADI wirausaha kadang terjadi dengan tidak sengaja. Namun prosesnya jelas tidak tiba-tiba. Pasti dimulai dari “perang bathin” dalam diri yang bersangkutan. Kuncinya ada pada keberanian untuk memulai melakukan atau bertindak. Di masa sulit seperti saat ini, dimana pandemi wabah Covid-19 melanda dunia, tanpa kecuali, yang membuat semua bagian dari kehidupan manusia menjadi terganggu. Krisis ekonomi tidak bisa dihindari. Bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, adanya pandemi dan krisis, justru adalah sebuah tantangan yang bisa diubah menjadi peluang untuk memulai usaha/bisnis. Jiwa kewirausahaannya akan muncul dan memanggil-manggil untuk segera beraksi. Keberanian memulai langkah pertama adalah awal yang sangat menentukan langkah berikutnya.

Di tengah pandemi wabah Covid-19 saat ini yang melanda semua bidang kehidupan manusia di seluruh dunia, tanpa kecuali mengharuskan tinggal, bekerja, belajar, dan beraktivitas lainnya di rumah saja. Karena virus yang sangat mematikan tersebut belum ada obat atau vaksinnya. Ini membuat bidang perekonomian juga mendapat dampak yang tidak kecil. Bahkan sangat, sangat besar. Biar pun roda perekonomian masih boleh berjalan, namun bila pembelinya mengalami krisis keuangan, tentu pedagang akan terganggu juga aktivitas kasnya. Inilah musibah sekaligus ujian yang bagi setiap orang akan merespons dengan cara yang berbeda.

Seorang wirausaha akan memiliki daya dorong dan pola pikir dari dalam diri yang pasti berbeda dalam merespons kondisi seperti saat ini. Bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, apa pun kondisi yang terjadi, tidak akan membuat dirinya galau dan berlama-lama larut dalam ketidak-pastian. Segera inisiatif dan kreativitasnya bekerja dan memunculkan inovasi baru dalam mencari solusi-solusi baru yang sesuai dengan kondisi yang ada disekitarnya sehingga bisa memberikan kontribusinya pada masyarakat.

Adalah Muhammad Yunus, penulis Baker to the Poor dan pakar ekonomi yang memperjuangkan kaum miskin di Bangladesh hingga dengan prestasi tersebut beliau berhasil menjadi Pemenang Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia tahun 2006, berpendapat, “Setiap orang adalah wirausaha”. Mengapa? Karena jiwa kewirausahaan dan kreativitas yang ada dalam diri setiap orang akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Mencoba dan merangkai inisiatif baru sehingga bisa memberi solusi manfaat bagi orang lain. Menurut Robert T. Kiyosaki, saat krisis sebenarnya wirausaha akan tumbuh subur. Demam kewirausahaan semakin memuncak karena ketika perekonomian melambat, aktivitas kewirausahaan menghangat. Begitu tahu tak bisa lagi mengandalkan majikan, manusia biasanya akan mulai berpaling ke diri sendiri. Manusia mulai berpikir mungkin sekarang waktunya keluar dari zona nyaman dan bertindak kreatif untuk memenuhi kebutuhan. Maka muncullah kreativitas-kreativitas dan kewirausahaan baru pun menjadi berkembang.

Oleh karena itu, bagi sebagian besar orang, perekonomian saat seperti ini sedang sulit. Tapi bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, mereka yang memiliki pikiran cukup terbuka untuk menangkap apa pun yang ada di sekitarnya, momen ini penuh dengan potensi ekonomi. Sekarang bukan saja saat yang tepat, tapi juga yang paling baik untuk memulai usaha sendiri! Karena dalam situasi menjadi sulit yang tangguhlah yang bertahan. Seseorang yang memiliki jiwa wirausaha yang tangguh akan memutar otak, menggali kreativitasnya dan merajut inisiatif-inisiatif guna menemukan sesuatu yang baru, cara baru, model baru, produk baru, dlsb, dengan memanfaatkan yang ada disekeliling untuk kemaslahatan kehidupan.

Hanya diperlukan keberanian untuk menemukan, mengembangkan, dan menyumbangkan kepandaian. Karena masing-masing kita diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada dalam diri bagi kemaslahatan kehidupan ini. Inilah ibadah kita untuk orang lain, masyarakat dan dunia. Tidak ada alasan tidak memiliki modal, tidak memiliki cukup dana, tidak memiliki kemampuan, dlsb. Semua kita, kata Muhammad Yunus adalah wirausaha. Tinggal bagaimana kita berani keluar dari zona nyaman kita dan melakukan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan. Kendali ada pada diri kita masing-masing. Kita harus mengambil kendali atas kehidupan ini, minimal yang ada disekitar kita. Sehingga kita bisa memberi manfaat untuk orang lain. Kebahagiaan akan datang ketika kita bisa berbagi dan membawa manfaat pada orang lain.

Pandemi covid 19 dan terjadinya krisis dalam kehidupan kita tidaklah menjadi halangan dan rintangan untuk berkreasi. Dengan mengubah cara berespon kita, pasti akan muncul inisiatif dan kreativitas baru yang menghasilkan inovasi-inovasi bagi kemaslahatan kehidupan ini. Covid dan krisis bisa menjadi peluang muncul dan tumbuh suburnya jiwa kewirausahaan dalam diri kita. Berkurangnya penghasilan, hilangnya pendapatan, dsb, bukan akhir. Karena kita masih punya modal dalam diri yang diberikan Tuhan. Selama kendali atas kehidupan kita masih kita pegang, maka selama itu apapun yang terjadi, hanyalah cobaan dan menjadi tantangan yang wajib dijawab dengan cara “memaksa” potensi terdalam diri kita untuk berpikir, berkreasi, bekerja, sehingga muncul inisiatif dan kreativitas baru yang membuat hal-hal baru yang bermanfaat dan memberi manfaat untuk kehidupan bersama. Semoga. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved