Jendela

Lebaran Mimpi Masa Pandemi

Kemungkinan yang lebih besar adalah, mata kita masih terjaga, tetapi kita masuk ke dunia mimpi yang lain, yaitu dunia maya media sosial!

istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Editor: Royan Naimi

Penulis:  Profesor Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

Benarkah kebanyakan orang kini menikmati lebaran di alam mimpi? Saya kira, ada benarnya. Apalagi di masa pandemi ini mobilitas kita terbatas. Kalau sudah tidak ada kerjaan dan bosan, orang akan memilih tidur saja, lalu bermimpi. Tapi ini hanya satu kemungkinan. Kemungkinan yang lebih besar adalah, mata kita masih terjaga, tetapi kita masuk ke dunia mimpi yang lain, yaitu dunia maya media sosial!  

“Bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi,” nyanyi Mbah Surip, yang dulu populer. Dalam sehari-semalam (24 jam), orang dewasa umumnya tidur lima hingga delapan jam. Tidur adalah istirahat yang paling sempurna. Ketika tidur, kita masih bernapas, tetapi tidak sadar dengan alam sekitar kita. Saat tidur itu kita mengalami peralihan kesadaran dari alam inderawi ke alam mimpi atau alam imajinal. 

Mimpi memang bukan kenyataan yang bisa diindera. Tetapi boleh jadi ada kenyataan lain di luar yang bisa diindera. Orang bijak Tiongkok konon berkata, “Aku jatuh tertidur, dan ketika tidur aku bermimpi bahwa aku kupu-kupu. Ketika aku bangun, aku tidak yakin apakah aku manusia yang bermimpi bahwa aku kupu-kupu, atau apakah aku kupu-kupu yang bermimpi bahwa aku manusia” (Rakhmat 2003: 94).

Di dalam al-Munqidz min al-Dhalâl, al-Ghazali mengingatkan hal serupa agar kita bisa melampaui akal dan pengalaman inderawi, dengan mengajukan pertanyaan terbalik. Bagaimana dunia inderawi ini jika dilihat dari alam mimpi? Lebih jauh lagi, bagaimana orang yang sudah mati melihat kehidupan dunia ini? Apa makna ungkapan Sufi: ‘manusia di dunia ini sedang tertidur. Kelak setelah mati, baru terjaga’?

Para Sufi kemudian berteori tentang tingkatan-tingkatan wujud (marâtib al-wujûd/hierarchy of beings) dan menempatkan alam mimpi sebagai salah satunya, yang disebut ‘âlam al-mitsâl, alam citra-citra atau alam imajinal. Posisi alam ini adalah sebagai ‘alam antara’ (barzakh), yakni posisi antara alam materi dan ruhani. Karena bersifat antara, alam imajinal mengandung simbol-simbol dari alam ruhani dan jasmani.

Bagi tokoh psikoanalis Sigmund Freud, mimpi adalah keinginan-keinginan yang tertekan dalam alam bawah sadar seseorang. Tetapi teori ini tidak bisa menjelaskan, mengapa ada mimpi yang tak disangka-sangka, tak dipikirkan sebelumnya, muncul dan kelak terbukti benar? Nabi bersabda,”Mimpi yang benar adalah sebagian dari kenabian.” Mimpi jenis inilah yang bisa ditakbirkan, ditafsirkan makna simboliknya.

Sekarang orang sudah tidak banyak lagi mendiskusikan alam mimpi dan takbir mimpi. Dunia mimpi itu sudah nyata dalam arti bisa dilihat dan didengar, meski tidak bisa disentuh dan dicium. Itulah dunia ‘antara’ yang dengannya manusia hidup saat ini. Dunia ini nyata sekaligus tidak, hadir sekaligus absen. Orang menyebutnya dunia maya, realitas virtual yang bisa diakses melalui teknologi elektronik.

Entah berapa jam sehari, selain mimpi dalam tidur, kita menghabiskan waktu memasuki dunia maya ini. Apalagi Covid-19 memaksa kita untuk bertahan di rumah, tidak banyak bertemu orang, tidak kumpul-kumpul dan tidak bersalaman. Ketika dunia yang bisa dialami langsung oleh indera kita itu semakin sulit diakses, media elektronik memberikan jalan keluar melalui dunia maya, yang hadir sekaligus absen itu.

Kita tentu bersyukur hidup pada masa teknologi komunikasi yang canggih ini. Kita bisa megirim pesan, foto dan video secara mudah, cepat dan murah. Coba bayangkan pada masa ketika ponsel belum ada. Komunikasi masih menggunakan telepon analog atau surat. Biaya telepon waktu itu sangat mahal jika dibanding mengirim pesan melalui ponsel saat ini, sedangkan surat paling cepat satu hari baru  sampai.

Namun, alam mimpi bukanlah alam kasat mata. Dunia maya bukanlah dunia yang dilihat langsung, bisa dicium dan diraba. Manusia yang kemaruk tidur karena ingin terus-menerus bermimpi sama buruknya dengan manusia yang kemaruk dengan dunia maya. Manusia itu terdiri dari jasmani dan ruhani yang diantarai oleh alam imajinal. Mengabaikan salah satunya adalah menyangkal kemanusiaan itu sendiri.

Alhasil, lebaran melalui media sosial itu laksana mimpi yang membawa kita istirahat bahkan lari dari hiruk-pikuk dunia langsung-inderawi. Namun, seperti halnya tidur dan mimpi bukanlah tujuan melainkan sarana, begitu pula media sosial adalah sarana untuk mewujudkan yang terbaik di alam nyata. (*)

25 Mei 2020/2 Syawal 1441 H

Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved