Berita Tapin

Bingkisan Warga Binaan Rutan Rantau Kabupaten Tapin Dibatasi

Pembatasan kiriman bingkisan bertujuan untuk memudahkan petugas pelayanan Rutan Rantau melakukan pemeriksaan.

BANJARMASINPOST.CO.ID/MUKHTAR WAHID
Petugas layanan Rutan Rantau, Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, memeriksa isi bingkisan bagi warga binaan yang dititipkan pembesuk, Senin (1/6/2020). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Selama wabah virus corona atau Covid-19, pelayanan besuk warga binaan disetop pihak Rumah Tanahan Negara (Rutan) Kelas IIB Rantau, Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Namun, pembesuk atau keluarga warga binaan dapat mengirimkan bingkisan ataupun uang melalui petugas pelayanan Rutan Rantau.

Pantauan reporter Banjarmasinpost.co.id, Senin (1/6/2020), cukup banyak pembesuk menitipkan barang dan uang belanja kepada petugas pelayanan warga binaan.

Dari sejumlah warga yang menitipkan barang ataupun uang, dominan warga binaan yang menjalani hukuman perkara narkotika dan obat-obatan. Satu dan dua perkara kepemilikan senjata tajam dan kasus asusila.

Bingkisan yang dititipkan dibatasi hanya lima bungkus, jika itu mi instan ataupun minuman kemasan kotak.

Layani Menu Makanan Warga Binaan, Begini Kisah Pengawas Dapur Rutan Rantau

132 Warga Binaan Rutan Rantau Terima Remisi Khusus Lebaran

Kalselpedia – Rutan Rantau Kabupaten Tapin Tak Lagi Terima Tahanan

Layanan Besuk di Rutan Rantau Disetop, Gantinya Video Call via WhatsApp

Pencegahan Virus Corona, Suhu Tubuh Pengunjung Rutan Rantau Dicek

Sedangkan titipan uang bagi warga binaan paling dominan senilai Rp 50.000. Uang distaples bersama kertas yang ditulisi nama warga binaan.

Kepala Rutan Rantau, Arif Suhariono, mengatakan, pembatasan kiriman bingkisan itu agar memudahkan petugas pelayanan melakukan pemeriksaan.

Selain itu, titipan bingkisan warga binaan dibatasi hingga pukul 15.00 Wita. Lepas dari jadwal itu, layanan ditutup karena petugas berada di Rutan Rantau.

Arif Suhariono mengaku hanya petugas Rutan Rantau yang tidak melaksanakan work from home (WFH) sehingga tidak mengenal istilah new normal.

"Kami sejak pandemi Covid-19 di Kabupaten Tapin tidak melaksanakan WFH. Hanya saja protokol kesehatan pandemi diberlakukan. Petugas yang bersin dan gejala flu dipulangkan dan diizinkan tak masuk kerja hingga sembuh," katanya.

Pantauan reporter Banjarmasinpost.co.id, bingkisan dalam kantongan plastik diperiksa petugas, termasuk air kemasan botol dibuka dan dicium apakah mengandung alkohol.

(Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved