Berita Banjarmasin

Sepi Jasa Angkutan Sungai Dirasakan Pemilik Kelotok Warga Banjarmasin Ini

Minim pendapatan dialami pemilik yan juga motoris kelotok di Tanjung Pagar Banjarmasin sejak mewabahnya virus corona atau Covid-19.

BANJARMASINPOST.CO.ID/LENI WULANDARI
Pemilik sekaligus motoris kelotok Adul (58), dan istrinya, Dewi, sudah beberapa bulan ini tak ada penghasilan dari jasa angkutan sungai sebagai dampak dari mewabahnya virus corona atau Covid-19 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (2/6/2020). 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Jalannya usaha jasa angkut barang menggunakan kelotok di Banjarmasin, ibu kota Provonsi Kalimantan Selatan, bukanlah hal yang sulit ditemukan di sepanjang bantaran sungai.

Bahkan aktivitas di atas kelotok juga menjadi salah satu ikon Kota Banjarmasin dengan pasar terapungnya.

Namun, seiring perkembangan zaman, geliat usaha jasa angkutan kelotok pun kian menyusut oleh banyaknya moda transportasi lain yang juga lebih memudahkan masyarakat.

Seolah menjadi pesaing usaha jasa angkutan kelotok, kendaraan roda dua dan sebagainya turut menjadi pemicu sepinya angkutan para pengusaha jasa angkutan kelotok.

Warga Pengambangan Banjarmasin Ini Kaget Atap Garasi Hilang

VIDEO Disdukcapil Banjarmasin Belum Buka Pelayanan Tatap Muka

Pembukaan Tempat Wisata di Banjarmasin Tunggu Petunjuk Wali Kota

VIDEO Jembatan Pulau Bromo Banjarmasin Mulai Dibangun

Pasca PSBB di Kota Banjarmasin, Waktu Operasional Pasar Rakyat Kembali Normal, Tapi Ini Syaratnya

Haji 2020 Ditunda, Calon Jemaah Haji Asal Banjarmasin Ini Merasa Lega

Seperti yang dialami pemilik sekaligus pemangku jasa angkutan kelotok, Adul (58), tentang sepinya usaha kelotok saat ini kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (2/6/2020). 

"Minim pendapatan, sejak mewabahnya virus corona atau Covid-19," ucap pelan motirs kelotok lelaki yang tinggal di Jalan Kelayan Besar I, Kelurahan Tanjung Pagar, Kecamatan Banjarmasin Selatan, ini.

Bersama Istri, Dewi (45), Adul turut menuturkan bagaimana kelotok yang dimilikinya sering terparkir, mengapung di tepian sungai belakang rumah.

"Sebelum ada virus corona, sudah sepi. Tambah wabah, makin sepi. Kalau dulu, sekitar tahun 1998. ramai. Mengantar pupuk atau beras sampai ke Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah," timpal Dewi.

Kelotok Adul (58) sudah beberapa bulan tambat di sungai, belakang rumahnya, Kelurahan Tanjung Pagar, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ( Kalsel ), Selasa (2/6/2020).
Kelotok Adul (58) sudah beberapa bulan tambat di sungai, belakang rumahnya, Kelurahan Tanjung Pagar, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ( Kalsel ), Selasa (2/6/2020). (BANJARMASINPOST.CO.ID/LENI WULANDARI)

Tidak ada punya usaha lain untuk diandalkan perolehannya. "Biasanya dulu mengantar bawang, langganan pedagang di Pasar Lima. Sekarang, orangnya sudah punya kendaraan sendiri. Angkut sendiri," imbuhnya.

Kini, banyaknya pengusaha lain yang beralih menggunakan angkutan darat seperti kendaraan roda dua atau lainnya yang dulunya menggunakan jasa angkutan kelotok, membuat usaha Adul semakin sepi.

(Banjaramsinpost.co.id/Leni Wulandari)

Penulis: Leni Wulandari
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved