Berita Banjarmasin
Komisi IV DPRD Kalsel Sarankan Pemerintah Stop Bicara New Normal
H M Lutfi Saifuddin menyayangkan populernya istilah-istilah normal baru atau new normal yang dinilainya prematur.
Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Eka Dinayanti
Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kalsel masih menunjukkan tren meningkat dengan jumlah kasus mencapai 1.213 dan kasus kematian pasien Covid-19 sebanyak 94 orang hingga Pukul 16.00 WITA, Jumat (5/6/2020).
Sejak data-data penanganan Covid-19 rutin diumumkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kalsel pada Bulan Maret 2020 lalu, kurva kasus Covid-19 di Kalsel masih terus meningkat dan belum terlihat adanya pelandaian.
Dengan kondisi demikian, Ketua Komisi IV Bidang Kesejahteraan Masyarakat DPRD Provinsi Kalsel, H M Lutfi Saifuddin menyayangkan populernya istilah-istilah normal baru atau new normal yang dinilainya prematur.
• Ahok BTP Sebut Juni Istimewa, Suami Puput Nastiti Unggah Soal Soekarno dan Pancasila
• Penegasan Kemenkeu Soal Gaji Ke-13 PNS, TNI dan Polri Serta Pensiunan, Cek Besaran yang Diterima
• Foto Elly Sugigi Bersanding Syahrini Disorot, Bangga Ada Kesamaan Dengan Istri Reino Barack
Populernya istilah new normal tersebut dinilai Lutfi justru bisa menjadi bumerang karena berpotensi membuat masyarakat khususnya di Kalsel menjadi lengah dan salah paham dengan beranggapan bahwa pandemi sudah bisa dikendalikan.
"Stop bicara new normal. Lebih baik fokus pada penanganan pandemi yang (kasusnya) terus bertambah. Jangan membuat masyarakat menjadi lalai dengan narasi persiapan new normal," kata Lutfi kepada Banjarmasinpost.co.id, Sabtu (6/6/2020).
Kesalahpahaman masyarakat akibat istilah new normal dinilainya berpotensi dijadikan masyarakat sebagai dasar pembenaran untuk banyak melaksanakan aktivitas di luar rumah dan lebih buruk lagi, mulai mengesampingkan protokol kesehatan.
Jika hal demikian terjadi, Politisi Partai Gerindra ini menilai tak menutup kemungkinan Kalsel masih akan lebih lama akrab dengan virus asal Wuhan, Cina ini dan otomatis menambah berat kerja GTPP Covid-19 dan tenaga kesehatan di Kalsel.
"Saya sangat menyayangkan dan mengajak semua pihak menahan diri, bersabar dan terus bertahan dari pandemi ini. Jangan lengah atau melengahkan orang lain, saling mengingatkan untuk terus waspada jauh lebih baik. New normal masih sangat jauh untuk Kalsel," lanjutnya.
Karena itu, upaya sosialisasi terkait protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19 di Kalsel dinilainya masih harus terus digencarkan.
Sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina juga menegaskan tak menggunakan istilah new normal usai berakhirnya masa pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Kota Banjarmasin, Minggu (31/5/2020) lalu.
Ibnu memilih menggunakan istilah masa tanggap darurat pasca PSBB agar masyarakat tak terlena dan justru menilai ancaman Covid-19 berakhir seiring dengan berakhirnya masa PSBB.
Ia juga tetap meminta masyarakat mempertahankan kebiasaan melaksanakan protokol kesehatan dan melaksanakan pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) di tingkat kelurahan, RT/RW hingga perumahan dan komplek masing-masing.
(Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/20200503humas-dprd-ketua-komisi-iv-dprd-provinsi-kalsel-h-m-lutfi-saifuddin.jpg)