Ekonomi dan Bisnis

Harga CPO Anjlok, Gapki Kalsel: Dipengaruhi Harga Nasional dan Global

Harga CPO terus tertekan, seiring kasus pandemi Covid-19. Sebelumnya Rp1.600 perkilogram kini jadi Rp 970 perkilogram

Istimewa
iLUSTRASI- tandan buah segar kelapa sawit yang baru dipanen. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) terus tertekan, seiring kasus pandemi Covid-19 yang kian bertambah dan masih ditemukan di sejumlah negara.

Kini harga sawit atau buah tandan segar (TBS) merosot di angka Rp 970 per kilogram.

Sebelumnya berada di harga Rp 1.600 per kilogram kemudian turun menjadi Rp 1.300 per kilogram.

Anjloknya harga TBS berimbas pada petani kelapa sawit di kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel), yang mana mempengaruhi pendapatan para petani.

Terdampak Pandemi Covid-19, Ekspor CPO Kalsel Menurun

Anggota DPRD Kalsel Usul Bangun Pabrik CPO, Bangun Banua Berencana Bangun Apartemen di Gambut

Bupati Bebaskan 200 Hektare Lahan Kembangkan Segintung, Sarpras Tangki Timbun CPO Segera Dibangun

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalsel, Eddy Sapta Binti mengatakan, Harga TBS terus merosot disebabkan harga CPO dan palm kernel oil (PKO) yang juga turun baik di tingkat nasional maupun global.

"Hal ini juga ditunjang dengan volume ekspor yang juga menurun di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang sedang terjadi sekarang," ujarnya kepada Banjarmasinpost.co.id, Rabu (10/6/2020).

Kondisi yang memberatkan petani saat ini, diharapkannya, pemerintah lebih menprioritaskan untuk dapat melakukan subsidi kepada petani sawit selama pandemi Covid-19.

"Kami juga harapkan pemerintah dapat lebih memberdayaka petani, terutama dalam pelaksanaan program B30 yang mana seharusnya industri Biodisel dapat mengambil TBS dari petani," kata dia.

Berdasarkan catatan GAPKI pusat, tren produksi CPO sejak awal tahun cenderung menurun yakni dari 3,48 juta ton pada Januari 2020, kemudian menjadi 3,3 juta ton pada Februari, dan 3,27 juta ton pada Maret.

Sementara itu jika dibandingkan Januari-April 2019, produksi CPO 2020 lebih rendah sekitar 12,2 persen. Produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu merupakan efek dari kemarau panjang.

Untuk konsumsi dalam negeri pada April turun 98.000 ton atau turun sekitar 6,6 persen dibandingkan Maret, yang dipengaruhi dari turunnya konsumsi biodiesel sebanyak 113.000 ton.

Kementrian Keuangan Simplikasikan Prosedur Ekspor CPO, Bea dan Cukai Dapatkan Tugas Baru

Komoditas CPO Kalsel Masih Terlalu Andalkan Ekspor, Begini Saran Ekonom

Hal itu merupakan dampak dari turunnya mobilitas masyarakat. Dibandingkan dengan Januari-April 2019, konsumsi biodiesel pada tahun ini lebih tinggi karena implementasi B30.

Ditilik dari penggunaannya, konsumsi untuk keperluan pangan naik tipis dari 721.000 ton menjadi 725.000 ton. Sementara itu konsumsi oleokimia naik 11.000 ton menjadi 115.000 ton karena meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun. (banjarmasinpost.co.id/mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved