Tajuk

Pilkada ala Korsel

Di tiap TPS juga tersedia alat pelindung diri (APD) bagi petugas, hand sanitizer atau tempat cuci tangan menggunakan sabun, pengukur suhu tubuh

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEPUTUSAN sudah diketuk. Pemerintah dan DPR sepakat tetap menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2020, dari rencana semula 23 September 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara, langsung bergerak menyiapkan tahapan-tahapan pilkada.

Diyakini, pada Desember 2020, pandemi belum seutuhnya berakhir. Tentu harus ada cara atau strategi khusus agar tingkat partisipasi pemilih tetap tinggi. Indonesia bukan satu-satunya yang menunda pemilu pada tahun ini. Data Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) menyebutkan ada 51 negara. Bahkan, 17 negara di antaranya menunda pemilu nasional.

Sebaliknya, ada 8 negara yang tetap menggelar pesta demokrasi itu. Satu negara yang justru sukses pemilunya itu adalah Korea Selatan (Korsel). Digelar pada 15 April 2020 lalu atau saat masa puncak pandemi di negara tersebut. Partisipasi pemilihnya sebesar 66 persen, bahkan meningkat 8,1 persen dari pemilu sebelumnya.

Berdasar beberapa penelitian, kesuksesan itu karena tiga faktor. Sistem pemilu yang baik, kesigapan pemerintah menangani pandemi dan kepercayaan masyarakat. Untuk sistem, National Election Comission (NEC) selaku penyelenggara melakukan pemungutan suara secara bertahap. Pemilih tidak memberikan suaranya pada hari yang sama. Pencoblosan diatur per kelompok pemilih sejak dua hari sebelum “Hari H”. Dengan cara ini penumpukan atau kerumunan di tempat pemungutan suara (TPS) terhindarkan.

Di tiap TPS juga tersedia alat pelindung diri (APD) bagi petugas, hand sanitizer atau tempat cuci tangan menggunakan sabun, pengukur suhu tubuh, dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk mencegah penularan virus.

Untuk menjamin transparansi, penyelenggara bersikap sangat terbuka. Juga mempersilakan bahkan mamfasilitasi dan melibatkan lembaga-lembaga pemantau pemilu serta pers yang independen.

Dari sisi biaya dan tenaga, pemilu di Korsel memang sangat memberatkan. Akan tetapi, dalam kondisi gawat darurat akibat pandemi, jaminan kesehatan masyarakat (pemilih) tetap harus diutamakan.

Bagaimana di Indonesia? Saat ini KPU sedang bekerja keras menyiapkannya. Dukungan pemerintah, parlemen, dan seluruh elemen masyarakat sangatlah diharapkan. Sekali lagi, keputusan pilkada tetap digelar tahun ini, sudah diketuk. Segala konsekuensi di masa pandemi harus dihadapi. Dan, keselamatan dan kesehatan masyarakat, tetap harus diutamakan. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved