Tajuk

Pesan dari Reisa

Tampilnya Reisa juga menjadi pesan kepada warga bangsa, bahwa Indonesia memang masih segar dan bening, meski pandemi corona belum juga mereda.

BANJARMASINPOST.CO.ID - Reisa (bukan Raisa), saat dilahirkan di Malang 34 tahun lalu bernama lengkap Reisa Kartikasari. Kemudian bernama Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Reisa Broto Asmoro, setelah menikah dengan kerabat keraton Kasunanan Surakarta.

Kemunculannya di podium ‘milik’ Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah khusus penanganan Covid-19, sempat menjadi perbincangan hangat. Di dunia maya, celetukan-celetukan lucu nan optimistis pun berseliweran.

Di antara celetukan itu, kini warga(net) merasa harus mendengarkan secara seksama setiap informasi dari gugus tugas Covid-19. Bukan lantaran ingin mendengarkan materi yang disampaikan, tapi ingin menyaksikan si bening ini.

Respon yang segar itu, tampaknya menjadi maksud pemerintah menampilkan si bening di podium Yuri. Tentu, tidak dimaksudkan agar warga sekadar menyaksikan Miss Internasional 2011 itu, tapi pesan yang disampaikan sampai sesuai tujuannya.

Selain itu, tampilnya Reisa juga menjadi pesan kepada warga bangsa, bahwa Indonesia memang masih segar dan bening, meski pandemi corona belum juga mereda.

Bila seluruh warga bangsa segar sikapnya dan pemerintah bening kebijakannya, dipastikan akan memunculkan (atau mempertahankan) optimisme bangsa di tengah situasi tak menentu ini.

Energi nan segar dan bening itu akan menjadi modal penting untuk menjalani hidup dalam beberapa bulan ke depan.

Meski, sebenarnya tidak cukup pada kesegaran ‘mata’. Kesegaran warga harus juga ditopang oleh cara pemerintah dalam mengomunikasikan kebijakannya. Sehingga, tidak perlu lagi ada akal sehat yang bingung.

Cara komunikasi yang segar adalah yang menggunakan bahasa sederhana. Bisa dipahami orang paling awam. Logikanya tidak bertabrakan.

Cara segar itu, harus diikuti kesamaan bahasa informasi yang disampaikan masing-masing pejabat. Sehingga, warga semakin merasa yakin bahwa pemerintah mampu menjadi nakhoda bangsa menghadapi situasi sulit ini.

Sehingga, di era Reisa ini tidak perlu ada lagi, misalnya, informasi kebijakan yang disampaikan satu pejabat, bahwa semua penerbangan akan dihentikan. Namun, tiba-tiba ada informasi dari pejabat lain, masih ada pengecualian-pengecualian. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved