Kuliner

Makanan Bahan Ketan Wajib Ada saat Aruh Adat Dayak Desa Labuhan, Ternyata Ini Filosofinya

Ada makna filosofi mengapa ketan jadi jamuan makanan wajib dalam ritual aruh adat dayak Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan, kabupaten HST.

banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi
Memasak Pupudak persiapan aruh adat dayak Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan, kabupaten HST. 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI – Warga Adat Suku Dayak di Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan melaksanakan aruh adat sebagai ungkapan syukur .

Nah, rupanya untuk pelaksanaan aruh adat tak boleh sembarangan. Ada prosesi dan makanan wajib yang harus disediakan sebagai sesajen.

Seperti lamang, pupudak, dodol, ayam kampung, wajik, kelapa, dodol putih, cangkaruk, cucur, pisang amas, pisang paleng, hingga gula merah.

Aruh Adat Dayak Desa Labuhan saat Pandemi Covid-19, Hanya Undang Keluarga Terdekat

Fakta Mencengangkan, Kasus Kematian Covid-19 di Banjarmasin Didominasi Usia Produktif

Kredit Rumah Subsidi Difokuskan untuk Nasabah ASN, TNI Polri dan BUMN BUMD, Ini Syarat KPR BTN

Diduga Terpapar dari Donatur, 14 Anak Panti Asuhan di Gambut Positif Covid-19, Begini Kondisi Mereka

Untuk aruh adat bahan utama yang tak boleh ketinggalan yakni ketan. Ketan ini dimasak untuk berbagai menu seperti lamang, dodol, dan wajik.

Warga Dayak Desa Labuhan, Hadi, mengatakan ada filosofi mengapa ketan menjadi bahan wajib. Menurutnya, kepercayaan Suku Dayak, ketan memiliki filosofi kesejahteraan dan kerakatan (keakraban, red).

“Makanya ketan itu wajib ada. Jadi supaya rakat dan sejahtera,” ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved