Opini Publik

Darurat Re-Orientasi Kurikulum di Masa Pandemi

Kita semua tentu mengharapkan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus memerhatikan situasi dan kondisi yang terjadi lapangan

Oleh: Moh. Yamin, Pemerhati Pendidikan dan Penulis Buku-buku Pendidikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - PENDIDIKAN menjadi hak setiap anak bangsa untuk menikmatinya tanpa memandang kelas sosial apapun. Setiap warga negara sudah seharusnya dicerahkan oleh negara. Penyelenggaraan pendidikan yang berbasis kepada kebutuhan dan kepentingan di lapangan pun perlu diperhatikan. Ini sebagai upaya untuk bisa menjawab kebutuhan dan setiap pelaksanaan pendidikan yang dilakukan menjadi tepat sasaran dan menjawab persoalan. Kita semua tentu mengharapkan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus memerhatikan situasi dan kondisi yang terjadi lapangan, apakah situasi dan kondisinya layak digelar pelaksanaan pendidikan atau tidak. Tahun ajaran baru 2020 pun kini sudah di depan mata. Pertanyaannya adalah dalam kondisi pandemi dimana penyebaran dan penularan COVID ’19 yang belum mengalami penurunan, haruskah tahun ajaran baru ini akan dilaksanakan offline dimana semua peserta didik harus kembali ke sekolah? Ini menjadi tugas dan tantangan kita ke depan, terutama pemerintah apakah akan tetap melaksanakan tahun ajaran dengan kembali dan masuk sekolah.

Kontroversi pelaksanaan tahun ajaran ini terus menggelinding seperti bola salju di tengah masyarakat. Sekolah baik itu guru dan tenaga pendidikan lainnya di sekolah, termasuk orang tua siswa pun berpandangan bahwa sangat berisiko tinggi apabila diselenggarakan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Ada prediksi kuat, sekolah akan menjadi kluster baru dalam penyebaran wabah virus ini. Oleh sebab itu, marilah untuk memaknai kembali pendidikan secara lebih universal bahwa dimanapun tempat belajar, itulah yang disebut sekolah. Niat dan tujuan berpendidikan kemudian perlu dimaknai sebagai upaya memanusiakan manusia. Karena penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi lebih kepada pemanusiaan manusia secara universal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu merumuskan ulang tujuan dan capaian pendidikan pada setiap jenjang pendidikan.

Belajar dari Pengalaman

Pengalaman saat dimulainya penyelenggaraan pendidikan online terhitung Maret 2020 hingga saat ini, banyak dan sebagian besar orang tua siswa mengeluh bahwa relatif berat melaksanakan pendidikan online dengan tetap mengacu kepada standar capaian dan tujuan pendidikan yang sudah ada. Realitas menunjukkan bahwa siswa terlalu sering mendapatkan tugas yang harus dikerjakan dan kemudian diserahkan ke guru. Ini berat dan memberatkan.

Pada sisi lain, guru sebetulnya juga tidak menghendaki itu namun karena kurikulum mengamanatkan itu, mereka pun dengan tetap terpaksa menjalankannya. Dalam kondisi seperti ini, baik guru maupun siswa sebetulnya berada dalam kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan berbeban secara psikologis. Pendidikan dalam situasi seperti ini seperti penjara yang tidak memerdekakan dan menyenangkan. Seharusnya, pendidikan menjadi ruang belajar yang menyenangkan dan menggembirakan dimana siswa di rumah tetap belajar dengan nyaman dan senang, ini tidak menjadi kenyataan.

Selamatkan Generasi

Menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah saat ini berpotensi buruk bagi kebaikan dan kesehatan anak didik dimana tidak menjamin walaupun kondisi di sekolah streril dari penyebaran Covid ’19, terlepas pelbagai perangkat protokol kesehatan sudah siap dan disiapkan secara matang. Anak didik adalah generasi dan aset masa depan. Mereka adalah para anak bangsa yang akan melanjutkan kerja-kerja pembangunan di masa depan. Mereka wajib tumbuh sebagai pribadi-pribadi yang sehat, tumbuh besar dengan pikiran-pikiran visionernya untuk bangsa. Setiap dari mereka memiliki visi besar untuk membangun negeri ini. Untuk itu, dalam masa pandemi seperti ini, mereka sebaiknya tidak perlu belajar di sekolah, namun cukup belajar di rumah masing-masing. Kita semua juga setuju dan mungkin memiliki pandangan yang sama bahwa apapun kondisinya, belajar di rumah tidak semaksimal di sekolah, akan tetapi itu adalah paling tepat dan terbaik selama masa pandemi ini.

Mungkin yang perlu menjadi catatan bersama adalah orientasi tujuan pendidikan yang setidaknya dirumuskan kembali. Kita tidak berharap banyak saat mereka belajar di rumah, setidaknya mereka sudah mau belajar, itu sudah baik. Yang perlu dipikirkan adalah menyusun indikator capaian belajar selama belajar dari (di) rumah.

Menata Ulang Kurikulum

Selama masa pandemi terus berlangsung, menjadi penting untuk menata ulang kurikulum pendidikan kita dalam rangka menghargai setiap kebebasan hak para siswa termasuk para guru yang sebetulnya juga mengalami tugas berat secara psikologis dalam menjalani proses pendidikan dan pembelajaran. Penataan orientasi kurikulum perlu dimulai dari tujuan pendidikan yang diarahkan kepada pengembangan kepribadian siswa, bukan lagi pada pencapaian kognitif yang selama ini terjadi, pelaksanaan, dan evaluasi belajar. Pengembangan kepribadian berjalin kelindan dengan sikap dan tindakan kerja sama antara guru dan orang tua selama pendidikan dan pembelajaran online dilangsungkan dimana anak diarahkan kepada kemampuan dirinya untuk bertahan mengembangkan diri sebagai pribadi-pribadi yang tangguh. Setiap anak manusia lahir, tumbuh, berproses, dan dewasa dengan jalannya sendiri.

Dengan memahami landasan filosofis ini, arah kurikulum dituntut untuk menjawab itu. Materi dalam mata pelajaran tidak perlu banyak, namun berbobot sehingga arah dan tujuan pendidikan dan pembelajaran menjadi jelas arah dan targetnya. Untuk itu, semua materi mata pelajaran lebih menitikberatkan kepada penguatan kapasitas diri sehingga mereka tidak merasa bosan di rumah, namun berpandangan bahwa belajar tetap menyenangkan dan menggembirakan. Pendidikan bagi anak adalah sebuah proses pendewasaan diri untuk mau menerima kenyataan hidup sebagai sesuatu hal niscaya. Indikator capaian belajar dan pembelajarannya menjadi perlu dirumuskan secara kualitatif.

Butuh Kesadaran

Apakah ini dapat dilaksanakan atau tidak, ini membutuhkan kesadaran semua pihak bahwa kita tidak bisa menuntut maksimal baik kepada sekolah maupun kepada anak didik dalam menjalankan proses pendidikan dan pembelajaran selama masa pandemi ini. Kehadiran pemerintah dengan tetap menjalankan pendidikan dan pembelajaran dari rumah selama pandemi di tahun ajaran baru ini pun sudah seharusnya dilaksanakan sebagai upaya untuk menyelamatkan nasib generasi masa depan.

Tidak hanya itu, guru dan perangkat lainnya di sekolah juga perlu diselamatkan sehingga semuanya tetap menjadi baik di tahapan-tahapan selanjutnya. Dalam kondisi seperti ini, kita juga tidak memaksakan diri harus mampu menjawab capaian-capaian pendidikan menuju generasi emas (golden generation) 2045 sesuai dengan visi yang sudah dipasang di dokumen rencana pembangunan nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pun perlu menata ulang capaian pendidikan secara nasional. Semoga. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved