Jendela

Bukan Bosan Tapi Rindu Kedalaman

Facebook yang sering sekadar sarana silaturrahmi, ajang pamer bahkan debat kusir, mulai berubah menjadi sarana diskusi bernas, dengan tulisan serius

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Perdebatan mengenai sains, saintisme dan agama selama beberapa minggu terakhir di facebook, yang dipicu oleh kolumnis Catatan Pinggir majalah Tempo, Goenawan Mohamad, sungguh membuat hati banyak orang berbunga-bunga. Facebook yang seringkali sekadar sarana silaturrahmi, ajang pamer bahkan debat kusir, mulai berubah menjadi sarana diskusi bernas, dengan tulisan-tulisan serius.

Meski sejak lama saya tertarik pada isu sains, saintisme dan agama, saya tidak ikut serta dalam debat itu. Saya hanya menyimak, menikmati dan belajar dari perdebatan mereka. Di sisi lain, saya mencoba membagikan beberapa tulisan saya yang cukup serius di facebook. Minggu lalu, saya membagikan tiga tulisan saya pada hari yang berbeda. Ternyata, banyak yang membaca dan menanggapi. Saya bahagia.

Mungkin sekarang banyak orang yang sudah lelah dengan isu virus Corona. Kalau pikiran terus-menerus dihantui masalah ini, lama-lama orang bisa “kesurupan Corona dengan berbagai gejala” tulis Bre Redana di Kompas kemarin. Mungkin pula orang juga bosan dengan berbagai postingan di media sosial yang isinya pamer foto tanpa pesan bermakna, tulisan yang dangkal, provokasi hingga ujaran kebencian.

Namun, apakah gejala ini bukan suatu eskapisme, pelarian dari kenyataan? Bukankah masalah Corona adalah nyata dan berbahaya? Apalagi kasus positif terus meningkat dan sebagian orang tega menuduh tenaga medis sebagai pencari uang belaka gara-gara mayat keluarga mereka harus diproses sesuai protokol kesehatan demi pencegahan. Bukankah berbahaya jika kita tak peduli lagi dengan soal ini?

Rektor UIN Antasari Mujiburrahman : Era Industri Bukan Berarti Budaya Lokal Keagamaan Hilang

Bedah Buku Membingkai Bayang-Bayang, Prof Mujiburrahman Bahas Karya Rektor ULM

Calon Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin Dites Baca Alquran, Ini Kata Rektor Mujiburrahman

Saya kira kita bukan tak peduli lagi. Diskusi tentang sains, saintisme dan agama di atas juga berhubungan erat dengan Corona, yakni bagaimana kebijakan pemerintah dan sikap masyarakat terhadap masalah ini, apakah mengikuti yang dikatakan saintis atau yang lain? Di mana pula posisi agama? Sikap sebagian pemeluk agama yang ‘tidak takut pada Corona, hanya takut pada Tuhan’ sepertinya melawan sains.

Yang pasti, pikiran kita harus terus diberi asupan bergizi berupa ilmu dan kearifan sehingga kemanusiaan kita terus tumbuh dan mekar. Orang yang menjaga jarak dengan satu masalah sambil merenung tentang hakikat dirinya bukanlah orang yang lari dari kenyataan. Ia justru berusaha menemukan kenyataan yang sejati. Dengan mengenali diri, dia dapat mengenali orang lain, bahkan mengenali alam dan Tuhan.

Selain itu, orang perlu melihat hidup secara lebih luas. Seorang saintis mungkin asyik dengan risetnya, tetapi apakah dia sempat merenung tentang hakikat sains, seni dan agama? Seorang tenaga medis yang tiap hari berjibaku melayani pasien, tentu merasa lelah bahkan bisa menyerah. Bagaimanakah dia bisa bertahan tanpa ditopang nilai-nilai moral? Harapan menerima upah semata tentu takkan memadai.

Pada akhirnya, setiap manusia rindu akan kedalaman, yang melampaui dunia kasat mata. Dalam bahasa agama, ini disebut yang gaib, yang tak tercerap indera. Namun, jejak-jejak yang gaib itu dapat dirasakan di alam nyata. Dalam bahasa Arab, rûh itu seakar dengan kata rîh yang artinya angin, sebagaimana nafs bisa berarti jiwa, bisa juga napas. Angin dan napas itu terasa, tetapi tak kelihatan. Begitulah yang gaib.

Jika kita renungkan lebih dalam, keberadaan yang gaib itulah yang sangat menentukan hidup manusia. Kita tak pernah tahu pikiran dan perasaan orang lain saat berbicara dengannya. Pikiran dan perasaan orang lain itu gaib, tak kasat mata, tetapi mengapa kita dalam batas tertentu bisa memahaminya? Salah satu sebabnya adalah karena kita terlebih dahulu sudah mengenali diri kita sendiri sebagai manusia.

Inilah Perjalanan Mujiburrahman Hingga Menjadi Rektor UIN, Tawaran dari Mantan Rektor

Mujiburrahman Mengajak Umat Mengambil Teladan dari Kesalehan Nabi Ibrahim

Yang gaib itu pun bisa dikiaskan dengan virus Corona yang amat kecil. Bagi para saintis yang meneliti di laboratorium menggunakan kaca pembesar, virus itu bisa dilihat. Namun bagi kebanyakan kita, virus itu sama sekali tak terlihat. Ia tergolong gaib. Padahal, virus ‘gaib’ itu bisa menghancurkan yang nyata, terutama orang yang tidak peduli akan bahayanya, sehingga tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan.

Alhasil, semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini pada dasarnya bersifat netral: tidak baik, tidak pula buruk. Manusialah yang memberikan makna kepadanya. Makna itu adalah nilai di balik yang nyata, hikmah di balik kejadian. Makna adalah kedalaman di balik permukaan. Semakin dalam, semakin gaib. Meskipun gaib, sesungguhnya maknalah yang menentukan kualitas hidup kita sebagai manusia.
Kita tidak bosan, tapi rindu kedalaman!.(*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved