Berita Kesehatan

Cegah Sindrom Metabolik, Begini Batasan Asupan Gula, Garam, dan Lemak bagi Tubuh

Tumpukan lemak di perut tersebut dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik yakni hipertensi, hiperkolesterolemia, trigliserida tinggi, diabetes

Banjarmasinpost.co.id/Mariana
Certified Nutrition and Wellness Consultant Nutrifood, Moch Aldis Ruslialdi memaparkan materi asupan gula, garam, dan lemak yang ideal bagi tubuh melalui webinar Nutriclass, Selasa (16/6/2020). 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Makanan manis dan gurih umumnya menjadi favorit masyarakat. Terlebih karbohidrat juga mendominasi sebagai nutrisi yang dikonsumsi masyarakat Indonesia setiap harinya.

Pola makan yang berlebihan dan tidak seimbang akan membuat kadar lemak di tubuh menumpuk. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2018, sebesar 31 persen masyarakat mempunyai kadar lemak perut atau visceral fat yang tinggi. Padahal, timbunan lemak di sekitar organ dalam ini berkaitan dengan berbagai penyakit.

VIDEO : Jalak Kebo Cerdas dan Setia Kejar Pengendara Motor Di Banjarbaru

Certified Nutrition and Wellness Consultant Nutrifood, Moch Aldis Ruslialdi menjelaskan, tumpukan lemak di perut tersebut dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik yakni hipertensi, hiperkolesterolemia, trigliserida tinggi, diabetes, dan obesitas. Seseorang yang mengalami tiga di antara kondisi ini dapat dikatakan menderita sindrom metabolik.

"Pencegahan sindrom metabolik adalah dengan melakukan pola makan yang sehat, yang paling penting adalah membatasi jumlah gula, garam dan lemak (GGL)," ujarnya melalui webinar Nutriclass, Selasa (16/6/2020).

Dijabarkannya, jumlah GGL yang direkomendasikan adalah 50 gram gula atau setara dengan 5-9 sendok teh, 5 gram garam atau yang setara dengan satu sendok teh, dan 67 gram lemak atau setara dengan tiga sendok makan minyak.

Sindrom metabolik tidak hanya berpotensi menyerang orang dengan berat badan berlebih, namun juga dapat dialami orang berat badan ideal bahkan kurus.

"Istilah Thin Outside, Fat Inside (TOFI) yakni Timbangan berat badan cenderung normal bahkan kurus namun memiliki lemak tubuh yang tinggi. Banyak dijumpai orang memiliki badan yang kurus namun perutnya buncit, hal ini justru lebih berbahaya karena visceral fat atau lemak perutnya tinggi," imbuhnya.

Dinkes Banjarmasin Sosialisasi Protokol Kesehatan di Mall

Faktor risiko sindrom metabolik yang tidak dapat diubah yakni faktor genetik atau faktor keturunan dari orang tua yang membuat anak-anaknya rentan mengalami penyakit serupa misalnya diabetes.

Selain faktor genetik, faktor gaya hidup dan pola makan yang sehat mampu mencegah sindrom metabolik. Diet salah satu cara yang baik menekan atau mengurangi lemak jahat dalam tubuh.

Aldis mengatakan, hasil diet yang baik adalah terjadi penurunan berat badan 0,5-1,5 kilogram per minggu. Apabila lebih dari angka tersebut harus waspada justru akan berakibat fatal bagi tubuh. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved