bisnis

Pedagang Seragam Sekolah Sebut Penjualan Jelang Ajaran Baru Tahun 2020 Masih Sepi

Tahun ajaran baru diumumkan pada akan dimulai sejak tanggal 13 Juli 2020 mendatang, namun penjualan masih jauh dari penjualan normal tahun lalu.

banjarmasinpost.co.id/leni wulandari
BUKU-pedagang seragam sekaligus pemilik Toko Haji Ani Seragam, Rifqi (18) dan Zubai 

Editor: Edi Nugroho

BANJARAMSINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mulainya tahun ajaran baru pada 13 Juli 2020 mendatang yang masih dikhawatirkan dalam kondisi mewabahnya virus Corona membuat beberapa daerah di Indonesia masih belum sepenuhnya dapat melangsungkan proses belajar mengajar dengan bertatap muka.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Bahwa sebanyak 429 kabupaten/kota di Indonesia dilarang melangsungkan kegiatan belajar mengajar secara bertatap dalam masa pandemi Corona Virus Desease-19 (Covid-19) seperti saat ini.

Hasilnya, pandemi turut menunda kegiatan belajar mengajar yang secara langsung di lingkungan sekolah tersebut membuat penjualan pedagang seragam murid sekolah ikut terkatung.

Prilly Latuconsina Punya Jadwal Tidur dan Menangis diucap di Podcast Ruang Sandi Sandiaga Uno

Pasalnya, pengumuman tahun ajaran baru yang dinyatakan oleh Menteri Pendidikan tersebut pun tidak dibarengi dengan kepastian siswa yang akan melangsungkan proses belajar ke sekolah.

Dengan masih belum diizinkannya murid belajar ke sekolah, membuat para orang tua atau wali murid belum juga yang banyak memburu keperluan sekolah, seperti seragam sekolah.

Hal itu disampaikan oleh pedagang seragam sekolah sekaligus pemilik Toko Mahkota Agung, Agus (58), di Pasar Sudimampir, Jalan Ujung Murung, kelurahan Kertak Baru, kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Sejak April Disdukcapil Tapin Aktifkan Layanan Berbasis Online, Dua Mesin ADM Disediakan Tahun Ini

Menurutnya, memang tahun ajaran baru diumumkan pada akan dimulai sejak tanggal 13 Juli 2020 mendatang, namun ia belum bisa memastikan bagaiman penjualan seragam sekolah kedepannya di toko miliknya itu.

"Mulainya kan nanti masih bulan depan. Masih belum tahu bagaimana penjualan nanti," ucapnya kepada banjarmasinpost.co.id, pada Selasa (16/6/2020).

Sebab, menurut penjelasan Agus, hingga saat ini penjualan masih jauh dari penjualan normal tahun lalu. Dibandingkan dengan penjualan seragam pada sebelumnya, daya beli penjulan seragam di tokonya saat ini hanya 25 persen.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pedagang seragam sekaligus pemilik Toko Haji Ani Seragam, Rifqi (18) dan Zubai (34).

"Penurunan sekarang 80 persen. Jauh turunnya kalau dibandingkan dengan tahun lalu," ucap Zubai.

Gerakan Aksi Sosial Ini Membantu Korban Kebakaran di Banyu Tajun Hulu

Jika dulu ia menjual hanya untuk pembelian partai, lain halnya dengan saat pandemi seperti saat ini. Penjualan diberikan kepada pembeli yang ingin membeli seragam baik dengan sistem eceran maupun partai.

Namun, Zubai menjelaskan meskipun penjualan saat ini melayani sistem eceran atau pembelian dalam jumlah satuan penjualan seragam masih saja terbilang sepi bila dibanding tahun sebelumnya.(banjarmasinpost.co.id/leni wulandari)

Penulis: Leni Wulandari
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved