Opini Publik

Kepatuhan di Era New Normal

Diperlukan beberapa gebrakan, rekayasa sosial, dan kepatuhan dalam menerapkan kehidupan “new normal”

Oleh: Suhaimi, MA, Direktur Eksekutif Center for Religious and Community Empowerment Studies (CRCES) Bartim, Kalimantan Tengah

BANJARMASINPOST.CO.ID - PANDEMI covid-19 telah menyerang manusia di seluruh penjuru dunia. Pandemi ini telah mempengaruhi fondasi peradaban manusia yang telah terbangun selama ini. Di antaranya dapat terlihat pada sektor kesehatan, ekonomi, pendidikan, tatanan sosial, dan keagamaan.

Bahkan, pandemi ini juga mampu mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat, seperti tidak bersalaman, jaga jarak, tekanan sosial dan stigma negatif. Serta mampu mempengaruhi sisi psikologis dalam diri setiap individu. Hal tersebut termanifestasi dalam bentuk sikap emosi yang tidak stabil seperti stress, jenuh, cemas, dan sebagainya.

Sampai saat ini tidak ada negara manapun yang dapat membasmi pandemi ini. Dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa pandemi ini akan berakhir dengan cepat. Belum ditemukannya vaksin menyebabkan beberapa negara di dunia melakukan gerakan cepat dengan menerapkan kebijakan, seperti “lockdown” dan pembatasan sosial.

Di tengah ketidakstabilan ekonomi dan kejenuhan kehidupan sosial masyarakat, maka kemudian pemerintah memberikan beberapa kelonggaran dengan menerapkan kehidupan normal baru di tengah pandemi. Kehidupan normal masyarakat dunia yang telah terbangun selama ini memaksa kita untuk menapaki kehidupan baru, dengan istilah: “new normal”. Pengertian new normal sendiri menurut Gugus Tugas Covid-19 adalah kebiasaan baru yang dilakukan agar ekonomi tetap berjalan dan wabah bisa diatasi dengan menggunakan protokol pandemi, seperti social distancing, work from home, stay at home, menggunakan masker, cuci tangan, dan tidak bersalaman.

Tidak mudah untuk menerapkan kehidupan baru tersebut terhadap berbagai lapisan masyarakat. Diperlukan beberapa gebrakan, rekayasa sosial, dan kepatuhan dalam menerapkan kehidupan “new normal” tersebut. Kepatuhan adalah kunci yang diperlukan dalam mematuhi pola perilaku baru di era new normal ini. Percuma otoritas pemangku kebijakan menerapkan berbagai protokol pandemi apabila ternyata perilaku masyakarat belum bisa berkompromi dengan peraturan yang ada.

Tiga Bentuk Kepatuhan

Berbicara mengenai kepatuhan, maka bagaimana pengaruh sosial dalam ilmu psikologi. Konsep kepatuhan sendiri memiliki dinamika psikologis yang sangat menarik untuk dicermati di tengah pandemi ini. Para ahli psikologi telah lama mengkaji konsep kepatuhan perilaku masyarakat dalam mentaati berbagai aturan yang ada. Kajian ini tentu dapat diterapkan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap protokol pandemi saat ini.

Istilah kepatuhan sendiri menurut Byrne (1991) merupakan kondisi adanya suatu tuntutan untuk melakukan perubahan perilaku yang sesuai dengan aturan-aturan otoritas, dengan adanya suatu tekanan dalam proses yang mempengaruhinya.

Larsen, Ommundsen dan Veer (2008) menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga bentuk perilaku patuh yang dihasilkan dari proses pengaruh sosial. Pertama, konformitas (conformity) adalah di mana individu mengubah sikap dan perilaku agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Kedua, penerimaan (compliance) merupakan kecenderungan orang mau dipengaruhi oleh permintaan orang lain. Ketiga, Ketaatan (obedience). Pada level ini individu berperilaku dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada pihak yang memiliki wewenang atau power yang lebih.

Halaman
123
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved