Breaking News:

Opini Publik

Kepatuhan di Era New Normal

Diperlukan beberapa gebrakan, rekayasa sosial, dan kepatuhan dalam menerapkan kehidupan “new normal”

Editor: Eka Dinayanti

Dari ketiga bentuk perilaku kepatuhan tersebut, pemangku kebijakan dapat melihat berada di level mana kepatuhan masyarakat, sehingga perilaku dapat dimanipulasi dan dimodifikasi ke arah yang diinginkan.

Dinamika Kepatuhan

Sementara itu, para ahli psikologi menyebutkan bahwa kepatuhan akan terlaksana apabila, pertama, memiliki sikap mempercayai (belief), sikap menerima (accept), dan sikap dalam wujud perilaku melakukan (act) akan norma-norma yang mengatur kehidupan bersama.

Sebelum dalam wujud perilaku (act), seorang individu harus memiliki sikap belief terhadap informasi yang diberikan dan percaya terhadap otoritas pemangku kebijakan maupun komunitas sosialnnya sendiri. Tingkat kepatuhan masyarakat berada pada sikap tersebut apabila tidak ada bias antara informasi yang diterima dengan sikap dan perilaku di atas. Apabila hal tersebut terpenuhi, maka tingkat kepatuhan (conformity, compliance, maupun obedience) seseorang akan tinggi.

Minggu, 14 Juni 2020 koran Kompas menurunkan berita di Makassar, di mana warganya menolak untuk dilakukan tes cepat. Banyak kejanggalan yang terjadi di sana, seperti tranparansi bantuan dan terkikisnya kepercayaan masyakarat terhadap tim kesehatan. Pada kasus lain juga banyak video dan cuitan yang tersebar di media sosial dengan berbagai macam statemen mengenai pandemi ini, menyebabkan pengaruh sosial yang seharusnya ke arah positif, malah berakibat sebaliknya. Ini tentu bertentangan dengan konsep dasar kepatuhan. Terlepas dari benar atau tidaknya video dan cuitan yang beredar, hal semacam ini sudah sepantasnyalah harus dihindari, karena dapat memunculkan berbagai stigma negatif di tengah pandemi ini. Yang dapat mengakibatkan tingkat belief seseorang menjadi terganggu dan tidak seirama antar satu dengan lainnya.

Kedua, adanya legitimasi dari otoritas dengan memberikan penghargaan (reward) dan tekanan (punishment). Di dalam level kepatuhan (obedience), tekanan dan penghargaan dapat dilakukan. Seperti misalnya otoritas yang berwenang mewajibkan setiap orang untuk melaksanakan berbagai prosedur pandemi apabila ke luar rumah, ke pasar, ke tempat ibadah, dan tempat keramaian lainnya. Apabila ada yang melanggar, maka dikenakan denda atau tidak boleh memasuki kawasan tersebut.

Masih banyaknya ditemukan warga yang tidak disiplin dalam menjalakan prosedur pandemi adalah cermin pemerintah belum maksimal dalam mengedukasi semua lapisan masyarakat. Otoritas berwenang seperti misalnya pihak Polri dan TNI harus ditempatkan di masjid, mall, pasar dan tempat umum lainnya secara maksimal dengan memberikan pengawasan dan pengawalan untuk memastikan prosedur pandemi berjalan dengan baik.

Ketiga, dukungan sosial. Saling mengingatkan dalam keluarga, teman, dan komunitas sosial lainnya dapat berperan dalam meningkatkan kepatuhan. Pada level kepatuhan (conformity) ini seorang akan merasa malu apabila tidak selaras dengan kaidah norma sosial yang ada. Dukungan lain bisa dalam bentuk tulisan seperti “maskerku melindungimu, maskermu melindungiku”. Tulisan seperti itu tentu dapat membantu orang sadar akan manfaat memakai masker secara berkelanjutan. Ini bermaksud tidak saja memberikan keamanan terhadap diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Apabila ada yang melanggar dapat diberikan teguran sampai pada sanksi sosial, seperti membersihkan lingkungan.

Keempat, keadilan. Menurut May (2004) menyebutkan bahwa kepatuhan akan terbentuk saat adanya suatu keadilan dan kejujuran dalam pelaksanan yang diterapkan, sehingga memunculkan suatu konsistensi dalam prosesnya. Dari faktor yang mempengaruhi kepatuhan tersebut, maka pemerintah harus membuat kebijakan dengan memperhatikan tingkat keadilan, bukan sebaliknya. Jangan sampai muncul anggapan mengapa mall dan pasar dibuka, sementara masjid ditutup. Mengapa perusahaan besar dapat beroperasi, sementara usaha kecil tidak diperbolehkan berjalan. Jangan sampai perasaan masyakarat terusik mengenai keadilan akan aturan yang dibuat. Kasus seperti ini sempat terjadi, walaupun belakangan kebijakan tersebut telah dibenahi.

Kelima, tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan ini juga dapat berpengaruh atas pemahaman akan intruksi. Misalnya, kegagalan dalam memahami istilah-istilah baru, seperti istilah new normal, social distancing, stay at home, OTG, reaktif vs non reaktif, negatif vs positif, dan sebagainya. Di beberapa kasus, terkesan masyarakat kurang paham akan istilah-istilah baru tersebut, ini terbukti ketika pemerintah memberlakukan status new normal, orang-orang keluar rumah tanpa memakai masker dan beramai-ramai mendatangi mall untuk berbelanja. Pada kasus lainnya juga ada pasien dengan status OTG yang mengamuk karena merasa sehat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved