Ekonomi dan Bisnis

Harga Jual Arang di Tanahlaut Dikeluhkan Tidak Stabil, Sebabnya Buyer Besar Disebut Lakukan Ini

Kalangan perajin atau pengusaha arang di Kabupaten Tanahlaut dilanda kekhawatiran dengan kondisi labilnya harga jual arang yang cenderung merugikan

istimewa
ARANG - Para pekerja arang di Desa Ranggang sibuk beraktivitas, beberapa hari lalu. 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kalangan perajin  atau penguasaha arang di Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, dilanda kekhawatiran dengan kondisi labilnya harga jual arang yang cenderung merugikan usaha mereka.

'Saat ini harga jual per kilogramnya hanya Rp 3.500, padahal mestinya lebih dari itu karena harga tertinggi sampai Rp 3.900," sebut Husaini, Senin (29/6/2020).

Perajin arang dari Desa Ranggang, Kecamatan Takisung, ini menuturkan sejak dulu harga jual arang di desanya tak menentu. "Bicara harga, selalu dipermainkan oleh buyer besar. Semaunya mematok harga," sebutnya.

Para perajin arang di desanya tak bisa berbuat banyak karena memang memerlukan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hal demikian yang menyebabkan buyer besar mudah menetapkan harga secara sepihak.

Setelah Pantai Asmara, Dua Objek Wisata di Tala ini Diizinkan Buka Kembali

Dibuka Pendaftaran Taruna Taruni TNI AL, Daftar Lewat Website Resmi atau ke Lanal Banjarmasin

Dorong Pertumbuhan UMKM, Bank Mandiri Luncurkan Aplikasi Mandiri Pintar

Kasus Positif Covid-19 Meninggal di Tanahlaut Tembus 24 Orang, Hari Ini 1 dari Tambangulang

Apalagi usaha arang merupakan usaha turun temurun di Ranggang sejak puluhan tahun silam. Ranggang juga merupakan sentra produksi arang di Tala.

Para perajin arang di Ranggang berharap pemerintah turun tangan guna melindungi usaha produksi arang. Dengan begitu buyer besar tak bisa semaunya mematok harga.

"Kedepannya saya berharap kita pengumpul yang menentukan harga terhadap buyer. Nah, di sinilah pentingnya peran pemerintah. Di kampung kami ada sekitar sepuluh pengepul," tandasnya.

Dikatakannya, buyer besar arang yang selama ini menampung arang Ranggang berasal dari Timur Tengah. Tiap bulan cukup banyak arang yang diangkut.

"Jumlah tungku di kampung kami seribu unit lebih. Tiap perajin memiliki sekitar 4-10 tungku. Saya misalnya punya delapan tungku. Di sini hampir satu kampung terlibat pada usaha arang," sebu Husaini.

Tenaga kerja yang terlibat juga lumayan banyak. Tiap tungku setidaknya melibatkan enam hingga tujuh orang. Aktivitas padat selama proses produksi selama 22 hari.

(banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved