Indahnya Matang Keladan

Macan Misterius di Bukti Matang Kaladan

Di balik eksotisme keindahan panorama gugusan pulau yang berjejer di atas Waduk Riam Kanan, Kalimantan Selatan (Kalsel),

Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus Sene
Misteri Macan Di Puncak Bukit Matang Kaladan di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJAR - Di balik eksotisme keindahan panorama gugusan pulau yang berjejer di atas Waduk Riam Kanan, Kalimantan Selatan (Kalsel), ternyata dulunya objek wisata Matang Kaladan sempat menjadi momok menakutkan bagi warga sekitar. Pasalnya, macan penunggu kawasan ini kerap menampakkan diri.

Hal tersebut dituturkan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesona Riam Kanan, Julfani. Ia mengatakan nama Matang Kaladan berasal dari kata 'Matang' yang berarti gunung dan 'Kaladan' yang merupakan pohon meranti berukuran sangat besar.

Jadwal Pertandingan Sisa Real Madrid & Barcelona di Liga Spanyol, Menuju Juara La Liga

"Jauh sebelum Gunung Matang Kaladan populer di kalangan pendaki, dahulunya tempat ini merupakan kawasan hutan meranti, yang pada akhirnya ditebang untuk kebutuhan produk kayu," katanya saat ditemui Banjarmasinpost.co.id, (Senin, 29/06/20).

Ia mengatakan banyak juga dulu warga yang nekat masuk dan kebanyakan lari saat melihat penampakan macan. Sebagian warga juga sering mendengar auman macan pada malam hari.

Menurut Julfani, sempat ada pohon meranti yang ukurannya sangat besar. Bahkan, untuk mengukur diameter pohon tua yang ditunggui sosok macan itu, diperlukan bantuan lima orang dewasa.

“Dulu di Matang Kaladan ada pohon besar yang hanya bisa dipeluk lima orang. Pohon tersebut dipercaya masyarakat dihuni makhluk gaib dengan wujud seekor macan,” tuturnya.

Wisata Matang Kaladan, Menguatkan Ekonomi Warga Lokal

Hal tersebut yang membuat warga sekitar sangat takut memasuki wilayah Matang Kaladan. Apabila masih nekat memaksakan diri masuk ke tempat tersebut, warga akan ditampakkan hewan berdarah dingin itu.

Macan, dipercayai masyarakat sekitar, menjadi penunggu tempat keramat. Ada beberapa warga yang sempat mendengar macan meraung-raung pada malam hari.

“Banyak juga dulu warga yang nekat masuk dan kebanyakan lari saat melihat penampakan macan. Sebagian warga juga sering mendengar auman macan pada malam hari, sehingga warga tidak berani mendekat,” lanjutnya. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus Sene)

Penulis: Stanislaus Sene
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved