Breaking News:

Opini Publik

Pendidikan Benteng Kisruh RUU HIP

PANDEMI Covid-19 membuat pendidikan Indonesia tercerabut. Pendidikan seakan diusir dari wadah formalnya yang bernama sekolah.

Oleh: Salasiah, S.Pd, Pendidik & Founder RuFidz Ahmad

BANJARMASINPOST.CO.ID - PANDEMI Covid-19 membuat pendidikan Indonesia tercerabut. Pendidikan seakan diusir dari wadah formalnya yang bernama sekolah. Teknologi daring sebagai sarana pendidikan menjadi bias, menambah beban pembiayaan hidup di tengah pandemik bagi keluarga menengah ke bawah. Semabako dapur belum terpenuhi, kouta daring harus terisi.

Pendidikan nasional seolah kehilangan tujuan bersekolah. Tujuan pendidikan nasional mulia untuk menciptakan manusia Indonesia yang berimtak dan beriiptek harus berjalan di tempat karena pandemik. Pengaruh kapitalisasi membawa pendidikan lebih berorientasi pada pasar dan kebutuhan tenaga kerja, sehingga pengaruh wabah pada sektor ekonomi jelas berestafet pada arah pendidikan.

Sebelum mengenal wadah pendidikan di Indonesia, santri sudah hadir menikmati ilmu dengan kesadaran akan kewajiban menuntut ilmu sebagai sesuatu yang indah, bernilai ibadah, dan dicintai tuhanNya. Mereka rela hadir menyambangi sang guru meski dengan jarak berkilometer, menempuh jalan yang beronak duri dengan semangat. Duduk khidmat memandang wajah sang guru dan mendengarkan petuah-petuahnya.

Guru para santri adalah para kiai dan para mu’alim yang menyapaikan ilmu mereka dengan ikhlas, meskipun mungkin hanya dihadiri oleh satu dua orang muridnya. Menyampaikan kurikulum yang tidak tertulis karena tidak banyak tuntutan sang kiai kepada santrinya. Tuntutan tinggi pembelajaran sang guru hanya pemahaman tauhid dan mengamalkan nilai aqidahnya. Semua terjaga dengan pengayoman sang guru dan kejujuran sang murid atas kekeliruannya. Santri yang terkelompokkan sebagai rakyat pribumi kelas bawah dan jauh dari peran kepentingan penjajah Belanda tetap menempuhi rasa haus akan pengetahuannya dengan mendatangi para guru-guru, kiai-kiai yang juga dengan tekun membinbing dengan ilmunya.

Pesantren pun hadir sebagai wadah pendidikan tandingan dari pendidikan yang berkiblat kepada kurikulum barat yang disediakan oleh penjajah hanya untuk keluarga bangsawan dan mereka yang berafiliasi kepada kepentingan penjajahan. Hasil dari pembelajaran yang berbasis kepada aqidah menjadi dasar para santri mencintai dan mensyukuri apa yang dimilikinya, termasuk tanah air dengan semboyan yang membumi ‘hubbul wathan minal Iman’.

Semboyan itu pun membakar ghirah, semangat para santri untuk membawa perlawanan terhadap penjajahan yang dihadapi menuju kemuliaan tanah air. Si Pitung menjadi bagian yang tak terlupakan sebagai santri yang membawa perlawanan terhadap kompeni penjajah dan antek-anteknya yang direkrut warga. Sampai pada sejarah pergerakan kemerdakaan hingga mencapai kesepakatan sumpah para pemuda, santri selalu ambil bagian sebagai lambang pembelajar aktif dan peduli bangsa. Kala itu musuh penjajahan yang dihadapi jelas dan nilai kemuliaan yang diperjuangkan jelas. Perjuangan para pemuda fokus membangun strategi dan pola sasaran dengan bidikan yang terkunci. Demikianlah pendidikan berbasis aqidah melahirkan generasi yang merdeka dalam belajar dan mengamalkan ilmu.

Edisi sejarah penjajah fisik bersama sakitnya kerja rodi dan romusa. Tanpa bayaran, tanpa rehat apalagi hiburan, bahkan tanpa perhargaan sudah lama berlalu. Selepas kemerdekaan fisik, kebahagiaan memboncah, tak ada lagi ancaman luka mengancam. Pemuda Indoneisa, termasuk juga santri pembelajar, hingga kini menikati penuh era milinea. Peran pemuda terlihat lebih longgar dengan gaya hidup milinea. Pada titik ini diberikan banyak pilihan virtual yang membawa sisi postif dan negative yang bahkan bisa menjadi sebuah dampak epedimi yang mewabah. Food, fun, fasyian plus free style menjadi jamuan yang menyerang kaum millennia. Namun serangan itu bukan dianggap sebagai sebuah penjajahan atas generasi.

Semangat perjuangan akan bela negara dan semboyan hubbul wathan minal iman yang berlandaskan aqidah mulai terkikis oleh sekularisme yang melenakan. Disisi ini pandangan pemikir sosialis bahwa agama dan pesan nilainya adalah sebagai candu. Ruhiyah pemuda pelajar terikat keimanan sehingga tidak lagi mudah goyah oleh tipu muslihat yang menyusup secara soft, tanpa disadari. Pemikiran kacau yang menyerang pikiran para pemuda pelajar Indonesia, namun tidak ada kesepakatan diantara mereka yang menganggapnya sebagai sebuah serangan yang bisa menjajah. Kelengahan itu memuluskan lahirnya hingga RUU HIP yang membawa kisruhnya dengan ekasila.

Keberpihakan pemuda pelajar akan persatuan mulai terpecah berdasarkan nilai manfaat, terutama manfaat materi, yang bisa menguntungkan keberpihakannya. Hedonisme yang telah menjadi nilai masyarakat dan membentuk kepribadian pemuda telah melemahkan visinya tentang nilai persatuan. Pendiidikan pemuda anak bangsa bersama gawai yang begitu menggoda pun di pertanyakan.

Pendidikan yang hanya berorientasi nilai harus dikembalikan kepada nilai aqidah. Karena disanalah semua bentuk nilai karakter yang dibutuhkan oleh pemuda Indonesia untuk bangkit kembali menghadapi upaya penghancuran bangsa. Aqidah yang diberikan oleh agama akan mampu menepis semua candu yang diselusupkan ke dalam jiwa-jiwa pelajar.

Masyarakat yang merupakan pilar bangsa sejatinya dibangun oleh satu pemikiran, perasaaan, dan peraturan yang sama sehingga tidak memungkinkan terjadinya perpecahan. Negara mesti mengedukasi warganya tentang adanya neoimprialisme. Bukan malah terbawa oleh permainan mereka sebagai Negara kapitalis dengan jeratan renten dengan jaminan segala sumber daya yang mestinya menjadi hak warganya.

Neoliberaisme merupakan gaya imprealisme dengan gaya baru dengan tanpa serangan fisik. Imprealisme dilakukan dengan mencengaramkan pengaruh Negara asing ke tubuh bangsa. Bahkan tidak dinapikan ikut berkuasa dan dan berperan dalam pendelegasian aturan-aturan Negara dalam UU yang sesuai dengan kepentingan mereka sebagai Negara imprealis. Neoimprealisme hanya akan menjadi warganya menjadi pekerja rodi dan rumosa dengan bayaran yang menipu. Tidak adanya kekhawatiran akan adanya serangan dan tidak adanya kekuatan musuh yang dipredeksi membahayakan persatuan menjadikan genggaman para pemuda pelajar saat bergandengan tangan akan terlepas secara perlahan.

Dunia virtual mestilah dijadikan media baru sebagai lahan perjuangan pemuda pelajar melenia untuk membangun persatuan. Pendidikan Indonesia harus terus bergerak meski saat pandemi. Sekolah hanya sebagai sarana yang mewadahi. Belajar sesungguhnya selayaknya santri yang mengejar kiai, dimana pun dan kapanmu dengan kompentensi ilmu adalah amal. Wallahu’alam bishshawab. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved