Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Hanya Operasikan Maksimal 15 Persen, Lion Group Pangkas Jumlah Karyawan

Maskapai penerbangan Lion Air Group melakukan pengurangan tenaga kerja dengan tidak memperpanjang kontrak sebanyak 2.600 karyawannya

Dokumentasi Lion Air Group
Ilustrasi - Social distancing di kabin pesawat ATR 72 Lion Air Group 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID,  JAKARTA - Dampak menurunnya operasional penerbangan kini juga dirasakan perusahaan Maskapai penerbangan Lion Air Group.

Perusahaan penerbangan itu menyatakan pengurangan tenaga kerja dengan tidak memperpanjang kontrak sebanyak 2.600 karyawannya terjadi pula di unit Wings Air dan Batik Air.

Juru bicara Lion Air Group, Danang Mandala menjelaskan pengurangan tenaga kerja tersebut juga mencakup tenaga kerja asal Indonesia dan asing (expatriate).

"Bukan disebut PHK, pengurangan pekerja ini karena kontrak kerja berakhir dan tidak diperpanjang. Total pekerja yang dipangkas sebanyak kurang lebih 2.600 orang dari total 29.000 karyawan," jelas Danang saat dihubungi Kontan, Minggu (5/6/2020).

Tak Ada Batasan Penerbangan Komersil, Komisi III DPRD Kalsel Bertolak ke Jakarta Membahas ini

Penerbangan Internasional & Umrah Belum Diizinkan, Arab Saudi Cabut Jam Malam

Lion Air Hentikan Sementara Penerbangan Komersial Penumpang Mulai 5 Juni, Ini Ternyata Alasannya

Sebagai informasi, berdasarkan keterangan terbuka di Bursa Efek Indonesia pada (1/6) lalu, per Desember 2019 jumlah karyawan AirAsia Indonesia baik tetap maupun tidak tetap mencapai 1.691 orang, saat ini sebanyak 1.645 orang, atau berkurang 46 orang (termasuk pengunduran diri).

Detailnya, jumlah karyawan PHK (pemutusan hubungan kerja) berjumlah 9 orang, jumlah yang dirumahkan 873 orang, jumlah karyawan terdampak dengan status lain (misalnya pemotongan gaji 50% dan lainnya) mencapai 328 orang.

Lebih lanjut, Danang mengungkapkan pihaknya juga mengalami penurunan okupansi yang signifikan saat ini. Kata Danang, walau saat ini pemerintah sudah mengizinkan pesawat beroperasi dengan berbagai syarat, tingkat okupansi Lion Air, Wings Air, dan Batik Air masih sangat rendah.

"Sejak mulai beroperasi kembali secara bertahap, Lion Air Group rata-rata mengoperasikan 10-15% dari kapasitas normal. Sebelumnya sekitar 1.400 sampai 1.600 penerbangan per hari," lanjut Danang.

Ia melanjutkan, strategi atau upaya perseroan yang diterapkan dalam mempertahankan kelangsungan usaha di tengah kondisi pandemi COVID-19 sudah dijalankan sejak Februari. Sampai saat ini, langkah tersebut juga masih dijalankan oleh Lion Group.

"Kami jalankan cash conservation mode, melakukan kontrol biaya yang ketat secara internal, seperti pemberhentian sementara untuk memperkerjakan karyawan baru, tidak ada perpanjangan atas sewa pesawat yang akan kadaluarsa, melakukan negosiasi terhadap lessor [penyewa] pesawat untuk pengurangan biaya sewa," jelasnya.

Lion Air dan Garuda Kembali Buka Penerbangan, Penumpang Harus Penuhi Syarat Ini

Danang sendiri menolak memberikan komentar terkait insentif pemerintah terhadap maskapai penerbangan swasta.

"Pandemi COVID-19 mengakibatkan industri penerbangan mati suri atau tidak beroperasi normal di jaringan domestik dan internasional. Padahal, biaya-biaya yang harus ditanggung tanpa beroperasi masih cukup besar, sehingga menimbulkan kesulitan yang sangat berat. Tetapi, kami masih belum bisa memberikan keterangan mengenai insentif," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Kurangi karyawan, Lion Group hanya operasikan maksimal 15% kapasitas normal

Editor: Hari Widodo
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved