Breaking News:

Opini Publik

Tahun Ajaran (Normal) Baru

TAHUN ajaran baru 2020/2021 bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, tetap dimulai di bulan 13 Juli ini

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan Pendidik dan Penulis Buku Pendidikan Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - TAHUN ajaran baru 2020/2021 bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, tetap dimulai di bulan 13 Juli ini. Carut marut tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasinya, tetap menjadi cerita bersambung tiap tahunnya, tak terkecuali tahun ini. Entah apa yang salah, apakah sistemnya, apakah pelaksananya, atau karena pemangku kebijakan yang seolah tak mau belajar dari kekisruhan tahun sebelumnya, tapi yang jelas, sistem zonasi PPDB ini dirasa nyakitin dan tidak mencerminkan keadilan dalam mengeyam pendidikan. Terlepas dari hingar bingar kisruh sistem zonasi PPDB tahun ini, penulis justru tertarik untuk mengurai kerinduan anak-anak kita untuk kembali ke sekolah.

Pendam Rindu

Sebagaimana kita ketahui bersama, berdasarkan keputusan bersama empat menteri, diputuskan bahwa keselamatan dan kesehatan para peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi prioritas utama. Implikasinya tentu belajar dari rumah dengan belajar daringnya tetap menjadi platform utama pembelajaran di tahun ajaran baru, bagi daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah. Sedangkan, bagi daerah zona hijau, diijinkan kembali membuka sekolah dengan pembelajaran tatap mukanya, dengan pelaksanaan yang sangat ketat dengan persyaratan berlapis.

Dalam konteks kebahagiaan saat belajar, tentu dua pilihan tersebut sama-sama kurang menyenangkan, manakala sentuhan interaksi sosial secara langsung saat belajar, khususnya antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik (guru) sangat minim bahkan tak ada. Situasi yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita jalani meskipun rindu akan kembali berseragam sekolah sudah tak tertahankan.

Hari pertama sekolah dengan seragam barunya menjadi hari bersejarah bagi anak yang baru masuk jenjang sekolah baru, baik PAUD, TK, SD, SMP, ataupun SMA. Tentu, momen hari pertama mengenakan seragam sekolah menjadi catatan sejarah perjalanan pendidikannya. Tak heran jika banyak anak yang sudah fitting baju seragam, kemudian mencoba hingga berselfie dan memajang foto di status wa orang tuanya, seolah sudah mau berangkat sekolah hari pertamanya. Semua yang dilakukan semata-mata antusiasme yang bercampur dengan kerinduan yang teramat besar untuk kembali menghirup udara sekolah. Wajar, setelah sekian bulan belajar daring, anak-anak begitu rindu untuk kembali belajar di sekolah.

Terlebih lagi, bagi anak jenjang pendidikan dasar dan menengah, aroma (bau) seragam baru lengkap dengan atribut yang menunjukkan identitas masing-masing sekolah, bagde organisasi kesiswaan, badge merah putih, badge nama sekolah, hingga badge nama peserta didik, yang begitu khas, semakin menambah hasrat untuk segera kembali bersekolah. Kerinduan anak untuk mengenakan seragam sekolah, bukan tanpa dasar, mengingat tujuan penetapan pakaian seragam bertujuan untuk menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, persaudaraan, hingga semangat persatuan dan kesatuan di kalangan peserta didik. Dengan seragam itu pulalah, status sosial anak-anak seolah melebur menjadi satu dalam status kesetaraan tanpa gap kesenjangan sosial ekonomi. Ketika mengenakan seragam di sekolah yang sama, tidak ada label si kaya dan si miskin. Dengan mengenakan seragam itu pulalah, secara tidak langsung, kedisiplinan, kepatuhan, dan tanggung jawab peserta didik semakin dipoles, agar taat dengan tata tertib yang berlaku di sekolah. Banyak hal, mengapa anak-anak sekolah rindu untuk kembali berseragam sekolah, karena memang seragam bisa menyatukan perbedaan, hingga kasta dan strata sosial.

Namun, tahun ajaran baru ini, nampaknya para siswa khususnya yang berada di zona tak aman untuk pembelajaran tatap muka, harus bersabar dan menunda keinginan mengenakan seragam sekolah, demi kemaslahatan bersama. Jika sudah demikian, kita tinggal berharap bagaimana peran pendidik, dalam hal ini guru, untuk bisa mengelola keinginan peserta didiknya.

Guru Bergerak dan Guru Berbagi

Pasca-PPDB tahun ajaran baru, setiap institusi pendidikan bersiap menggulirkan kembali kegiatan belajar mengajar, baik online maupun offline (zona hijau), di masa new normal. Tanpa bermaksud mengecilkan peran lainnya, guru memegang peran strategis untuk memulai semangat aktivitas pembelajaran di masa new normal ini. Dalam program merdeka belajar, kita mulai familiar dengan istilah guru bergerak dan guru berbagi.

Pertama, guru bergerak. Jumat kemarin (3/7/2020), program guru bergerak sudah dilaunching ke publik. Guru bergerak Indonesia maju muncul sebagai jawaban akan tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0. Melalui program guru bergerak, diharapkan akan lahir guru-guru yang mampu mengembangkan empat kompetensi guru dan mampu mengembangkan kecapakan abad 21, khususnya komunikasi dan kolaborasi. Program guru bergerak juga diharapkan mampu mencetak generasi pendidik yang memiliki kematangan moral, emosi, serta spiritual, serta berperilaku sesuai kode etik, serta mampu menjalin kerjasama, komunikasi, dan kolaborasi, serta menjembatani pihak sekolah dengan orang tua dalam melihat perkembangan pendidikan anak. Guru penggerak juga diharapkan mampu menjadi katalisator perubahan pendidikan di daerah masing-masing. Sederhananya, di masa new normal, kita berharap banyak akan segera lahirnya guru-guru penggerak yang mampu mendorong, mengelola, menciptakan ide-ide kreatif guna pembelajaran di masa pandemi yang tetap terjaga baik kuantitas maupun kualitas belajarnya.

Kedua, guru berbagi. Teacher sharing menjadi istilah lain yang muncul dalam konsep merdeka belajar, yang berbanding lurus dengan open accessnya informasi dunia pendidikan di era modern ini. Setiap guru memiliki kesempatan yang sama, untuk berbagi informasi, berbagai pengetahuan, hingga berbagi pengalaman. Program guru berbagi yang notabene merupakan kolaborasi pemerintah, guru, komunitas, dan penggerak pendidikan untuk bersama menghadapi Covid-19, sangat relevan untuk mendukung kebijakan pendidikan saat pandemi, dengan tetap memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Asas gotong-royong untuk berbagi ide, gagasan, serta teori dan praktiknya, memungkinkan kolaborasi positif sebagai solusi pembelajaran efektif dan bermakna saat Covid-19. Sederhananya, program guru berbagi menjadi satu program yang menjanjikan, dengan catatan, seluruh guru di pelosok tanah air memiliki akses yang sama baiknya untuk take and give.

Akhirnya, kita sadar bahwa masa-masa ini adalah tantangan nyata pendidikan kita. Secara kuantitas, kita bisa mengklaim, pembelajaran daring akan tetap berjalan sebagaimana jadwal semestinya. Namun, apakah kualitas pembelajaran saat daring bisa sepadan dengan kualitas hasil belajar tatap muka, yang terkadang juga masih perlu perbaikan? Kita berharap, kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan, khususnya program guru penggerak dan guru berbagi bisa dioptimalkan dan dimaksimalkan, didukung dengan jaminan sarana dan prasarana pendidikan yang menjangkau daerah terpencil. Semoga. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved