Berita Kotabaru

Nelayan Pulau Sembilan Kotabaru Pilih Berdiam di Rumah, Khawatir Gelombang Besar

Gelombang tinggi perairan Pulau Sembilan Kotabaru membuat ratusan nelayan tidak bisa melaut. Sejak 10 hari terakhir mereka lebih banyak di rumah.

Penulis: Herliansyah | Editor: Syaiful Akhyar
istimewa
Kapal nelayan di salah satu wilayah Kecamatan Pulaulaut Tanjung Selayar, Kotabaru 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID,KOTABARU - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kondisi gelombang tinggi dan tidak aman bagi pelayaran.

Tidak kecuali di perairan Kotabaru gelombang tinggi disebabkan cuaca ekstrem terjadi dalam beberapa minggu terakhir. 

Seperti di Pulau Sembilan, gelombang tinggi terjadi di perairan itu membuat ratusan nelayan tidak bisa melaut. Sejak 10 hari terakhir mereka lebih banyak berdiam di rumah. 

"Ada ratusan nelayan di sini. Semuanya tidak ada yang melaut," kata Akbar salah satu nelayan pemancing di Pulau Sembilan

Menurut Akbar, mayoritas nelayan memilih istirahat di rumah, takut melaut karena cuaca kurang bersahabat tidak mungkin memaksakan untuk melaut. 

"Kalau pun melaut hasilnya juga tidak seberapa," jelasnya Akbar kepada banjarmasinpost.co.id, Senin (13/7/2020).

Perusahaan Ini Bantu Alat PCR, Kapolda Kalsel Selalu Dukung Kebijakan Covid-19

Tabrak Pagar Jembatan Desa Bakarung HST Mobil Tangki Lalu Jatuh ke Sungai, Diduga Sopir Mengantuk 

Gelar Unjuk Rasa, FRI Kalsel Bawa Replika Peti Mati dan Korek Telinga Raksasa

Saat kondisi laut sedang tenang, pun sambung Akbar, hasil tangkapan nelayan tidak menentu. Kadang mendapat hasil, kadang nihil.

"Sehari melaut paling banyak Rp 50 ribu. Bisa juga sampai Rp 1 juta. Tergantung rezeki juga sih," terangnya. 

Terpisah, Seksi Kesyahbandaran Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kotabaru Edi Supriadi membenarkan, pascaterjadi gelombang besar. Tidak banya hasil tangkapan nelayan lesu, namun aktivitas bongkar hasil laut di dermaga PPI sempat sepi. 

Menurut Edi, aktivitas nelayan kurang menggeliat dalam tiga bulan terakhir, pun ditambah kdampak Covid-19 lantaran banyak kapal-kapal nelayan tidak melaut.

Terdata dari surat persetujuan berlayar (STB) dikeluarkan untuk kapal dari 10 sampai 20 GT--menjadi kewenangan provinsi--. Dalam tiga bulan terakhir cendrung menurun dibanding tahun 2019.

"Bulan juni saja baru 27 kapal mengurus STB. Tahun 2019 mencapai 60 an. Untuk aktivitas di dermaga, sampai hari ini bari 14 kapal. Sehari hanya satu kalal. Sebelumnya (2019) sehari tiga sampai empat kapal," pungkasnya. 

(Banjarmasinpost.co.id/ helriansyah)
 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved