Breaking News:

Berita Kotabaru

Jadwal Kapal Perintis ke Pulau Terpencil Kotabaru Belum Pasti, ini Penjelasan PT Pelni Batulicin

Tidak adanya kepastian jadwal beroperasinya Kapal Perintis, ini membuat masyarakat di gugusan pulau Jawa tersebut bingung.

istimewa
Kapal nelayan transportasi alternatif ke Pulau Sembilan, karena belum adanya kepastian KM Sabuk Nusantara 93 beroperasi 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kepala PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Batulicin Indra Maulana, belum bisa memastikan KM Sabuk Nusantara 93 kembali beroperasi untuk pelayanan transportasi ke pulau-pulau terpencil dan terjauh di wilayah Kotabaru.

Tidak adanya kepastian jadwal beroperasinya Kapal Perintis, ini membuat masyarakat di gugusan pulau Jawa tersebut bingung.

Tidak ada pilihan, kecuali menggunakan kapal nelayan yang penuh risiko karena bersamaan musim cuaca ekstrem.

Indra menyatakan, tidak bisa memastikan kapan beroperasinya KM Sabuk Nusantara 93.

MENGUNGKAP Misteri Pembunuhan Editor Metro TV Yodi Prabowo, Ada Apa dengan Pemilik Warung?

Permintaan Keluarga Ashanty pada Millendaru Pasca Datang ke Rumah Anang, Ibu Azriel: Hargai Kami

Komentar Baim Wong di Foto Raffi Ahmad dan Presiden Jokowi Bikin Heboh, Suami Paula Tulis Ini

Padahal sebelumnya, ia menjanjikan transportasi tersebut akan beroperasi sekitar minggu kedua Juli.

"Saya tanya sama Pusat belum tahu juga. Nanti kalau ada berita lebih lanjut akan saya beritahukan," kata Indra kepada banjarmasinpost.co.id, Rabu (15/7/2020) kemarin.

Namun sebelumnya, sambung Indra, ia sudah menghubungi Pusat.

Menjadi kendala belum bisa beroperasinya kapal, karena persoalan sertifikat lambung, mesin dan deck belum selesai pengesahan (endorse).

"Jadi, saat ini kapal masih di Surabaya," jelas Indra melalui telepon genggamnya kepada banjarmasinpost.co.id.

Sementara itu, salah seorang warga, Tugiman berharap perintis segera beroperasi lagi.

Ia meminta operator (PT Pelni) tidak memberlakukan protokol kesehatan yang dirasa berbelit-belit.

Seperti rapid test, namun cukup hanya keterangan kesehatan dari puskesmas setempat.

"Kalau harus rapid test dan harus membayar mahal, masyarakat banyak yang tidak sanggup," katanya.

BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah

Penulis: Herliansyah
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved