Breaking News:

Jendela

Ngeri-ngeri Sedap

Dalam penelusuran saya, ternyata ada rupa-rupa harga dan layanan rapid test mandiri yang tersedia di Banjarmasin

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang kawan yang kini menjadi pejabat tinggi di Jakarta menelepon saya. Setelah ngobrol sana-sini, dia bilang, “Kamu saya undang untuk menandatangani kerjasama lembaga saya dengan kampusmu.” Sebagai kawan baik, tak mungkin saya tolak, tetapi saya ragu. “Covid-19 di Banjarmasin masih merah, bahkan merah sekali,” kataku. “Engga papa. Kamu nanti ambil rapid test,” katanya.

Beberapa hari kemudian, saya mengambil rapid test. Dalam penelusuran saya, ternyata ada rupa-rupa harga dan layanan rapid test mandiri yang tersedia di Banjarmasin. Yang termurah adalah Rp 150 ribu, harus antre, puasa dan hasilnya ditunggu beberapa jam. Yang lebih mahal, tidak antre, tidak puasa dan hasilnya langsung bisa diambil dengan biaya bervariasi. Saya dapat harga lumayan: Rp 350 ribu.

Jantung saya berdegup kencang ketika menunggu hasil pemeriksaan setelah darah saya diambil. “Jika hasilnya reaktif bagaimana?” tanyaku pada dokter yang melayani. “Anda harus dikarantina 14 hari. Lalu di-rapid test lagi. Jika masih reaktif, maka Anda wajib di-SWAB,” katanya. Terbayang di benak saya, jika hal buruk itu terjadi pada saya. Oh Tuhan, semoga tidak! Ternyata, hasilnya non-reaktif. Saya pun lega.

Siang itu saya berangkat ke Bandara Syamsudin Noor lebih awal dari biasa. Ada perasaan khawatir tetapi juga tawakkal dan pasrah. Di bandara, suasana tampak sepi. Pintu masuk dijaga ketat dan penumpang melewati jalur khusus pemindai suhu tubuh. Kemudian dilakukan pemeriksaan dokumen hingga tiga kali, terakhir di layanan check in. Penumpang juga wajib mengisi Indonesia Health Alert Card secara daring.

“Untuk penerbangan saya ini, berapa penumpangnya?” “Hanya 50 orang pak,” jawab pelayan check in. Saya melihat ada sebagian penumpang maskapai penerbangan lain yang jumlahnya juga tidak banyak. Orang-orang semuanya memakai masker. Sebagian bahkan memakai pelindung wajah plastik. Beberapa restoran ternyata buka. Sebelum naik pesawat, saya sempat minum teh panas di sebuah restoran.

Dari terbang hingga mendarat, suasana kurang lebih sama. Protokol kesehatan dilaksanakan, dan orang tampak waspada. Di pesawat, penumpang duduknya dipisah-pisah. Alat makan-minum disediakan untuk sekali pakai. Suasana hening. Tidak banyak yang ngobrol. Setibanya di Jakarta, suhu tubuh dan dokumen kesehatan kami diperiksa lagi. Bandara Soekarno-Hatta sepi sekali. Restoran tidak ada yang buka.

Begitulah kisah singkat pengalaman saya terbang seminggu yang lalu. Meminjam istilah seorang politisi, situasinya ‘ngeri-ngeri sedap’. Ngerinya dua kali dibanding sedapnya. Tetapi tak ada pilihan lain bagi kita kecuali menyesuaikan diri dengan keadaan. Secara praktis, agar tidak bertemu banyak orang, lebih aman jika kita tidak bepergian. Tetapi jika memang tugas, apa boleh buat, kita harus berangkat.

Pada akhirnya, hidup harus terus bergerak. Kita tidak mungkin selamanya mendekam di rumah. Jalan tengah harus diambil, yang dalam istilah pemerintah disebut ‘hidup produktif aman Covid-19’. Takut berlebihan sampai ‘kesurupan Corona’ sama naifnya dengan tidak peduli protokol kesehatan. Kalau kita lihat di masyarakat, tampaknya orang yang tak peduli protokol kesehatan cukup banyak juga jumlahnya.

Memang orang yang sudah berhati-hati pun bisa saja terkena Corona. Seperti diberitakan Kompas (18 Juli 2020), meski hampir empat bulan mengisolasi diri, bintang Bollywood legendaris Amitabh Bachchan, anaknya Abisshek, menantunya Aishwarya Rai, dan cucunya Aaradhya, juga terinfkesi Covid-19. Diduga penularan berasal dari Abisshek yang sempat bekerja keluar rumah, meski sebab ini masih diragukan.

Namun, secara logika, orang yang mengikuti protokol kesehatan akan lebih aman dibanding orang yang tidak peduli. Pandangan agama juga begitu. Iktiyar dulu, baru tawakkal. Ikhtiyar artinya memilih langkah, mengusahakan yang terbaik. Tawakkal artinya berserah kepada Allah. Kalau memang sudah berusaha menjaga diri, tetapi terkena juga, itu namanya takdir. Kita harus menerimanya dengan sabar dan rela.

Alhasil, jalan tengah memang tidak selalu mudah. Kaum Sufi mengajarkan, kita harus berada di antara takut kepada siksa Allah dan berharap akan kasih-Nya. Terlalu takut akan membuat kita putus asa. Terlalu berharap akan membuat kita semena-mena. Di antara takut dan harap itulah terletak cinta. Cinta akan kebaikan dan keindahan. Cinta pada Dia Yang Maha Baik dan Maha Indah. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved