Berita Palangkaraya

Petugas Dipukul, Keluarga Tak Terima Pemakaman Pakai Protokol Covid-19

Proses pemakaman seorang jenazah yang menggunakan prorokol kesehatan Covid-19 di Jalan Tjilik km 12 Trans Kalimantan arah Palangkaraya- Sampit, Selasa

Foto Warga Palangkaraya
Proses pemakaman seorang jenazah yang menggunakan prorokol kesehatan Covid-19 di Jalan Tjilik km 12 Trans Kalimantan arah Palangkaraya- Sampit, Selasa (31/7/2020) berlangsung ricuh. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Proses pemakaman seorang jenazah yang menggunakan protokol kesehatan Covid-19 di Jalan Tjilik km 12 Trans Kalimantan arah Palangkaraya- Sampit, Selasa (21/7/2020) berlangsung ricuh.

Jenazah perempuan yang dimakamkan sesuai Protokol Covid-19 dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jalan RTA Milono Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sore sekitar pukul 15.00 WIB ditolak oleh pihak keluarga jenazah ada saat dalam proses penguburan.

Sejumlah petugas pemakaman pun akhirnya menjadi korban pemukulan oleh pihak keluarga yang menolak pemakaman menggunakan Protokol Kesehatan tersebut, sehingga, mengakibatkan, relawan dari PKU Muhammdiyah Palangkaraya mengalami luka pukul yang dilakukan pihak keluarga jenazah.

Berikan Semangat Sembuh, Pasien di RSUD Pambalah Batung HSU Diberi Siraman Rohani

Informasi yang didapat rekaman video di pemakaman yang beredar, tampak petugas yang menggunakan baju hasmat untuk penguburan dipukul, bagian muka ada juga yang didorong hingga terjatuh, sehingga situasi penguburan pun menjadi gaduh, atas penolakan penguburan tersebut.

"Kami sayang dengan keluarga, keluarga kami meninggal bukan karena Covid-19. Kenapa harus dikuburkan dengan cara penderita Covid-19. Kami tidak mau dikuburkan dengan cara penderita Covid-19," ujar salah satu keluarga pasien.

Sementara itu Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Palangkaraya, Aprie Husin Rahu, memberikan penjelasan atas kejadian yang menimpa anggotanya saat pemakaman Muslimin tersebut.

"Saat jenazah kami turunkan dari mobil ambulance, memang ada anak dari yang meninggal mempertanyakan pemakaman di Pal 12 ," ujarnya.

Menurut dia, pihaknya sebagai petugas pemakaman tidak mengerti soal penguburan tersebut, karena pengelola pekuburan lah yang menempatkan lokasi tersebut.

"Saya juga tidak tahu soal penempatan penguburan tersebut, karena yang mengurus pengelola pemakaman, karena lokasi pemakaman itu, merupakan tempat pemakaman umum, bukan penderita Covid-19," ujarnya.

Jadwal MotoGP 2020 Live Trans 7: GP Andalusia 2020 Mulai Jumat Live Fox Sport 2, Imbas Marquez Absen

Entah kenapa, ujarnya, ketika jenazah mau ditimbun dan dikuburkan, tiba-tiba , dari pihak keluarga minta pemakaman jangan terlalu cepat, sehingga akhirnya petugas memperlambat penimbunan."Saya juga kaget tiba-tiba teman saya yang pakai baju Hasmat didorong hingga terjatuh ke tanah," ujarnya.

Pihak petugas saat itu mengalah dan mundur dari lubang jenazah yang akan dimakamkan. "Saat kami mundur mereka malah balik menyerang semua petugas yang memakai baju Hasmat. Teman saya dipukuli termasuk Heri anggota Kokam hingga jatuh dan pingsan, sehingga dievakuasi ke ambulan," ujarnya.

Lebih parah lagi, pihaknya yang ingin menyelamatkan Heri yang pingsan karena dipukul, kembali di serang, sehingga akhirnya lokasi pemakaman pun menjadi ricuh."Yang ada di TKP saat itu pihak keluarga jenzah ada sekitar 30 orang, pengelola pemakaman, dan pihak petugas atau relawan kami," ujarnya lagi.

Kontan saja saat kejadian keributan tersebut, membuat orang tua jenazah sampai menangis , karena kejadian pemukulan tersebut."Kami saat itu sabar saja tidak ada melakukan perlawanan, karena kami memang hanya bertugas menguburkan jenzah saja," ujarnya lagi.

(banjarmasinpost.co.id / faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved