Breaking News:

Berita Kalteng

Puluhan Ribu Sabut Dibakar, Warga di Kabupaten Kotim Ini Hanya Jual Batok Kelapa

Sabut keplapa dibuang dan bahkan dibakar pekerja dan pekebun kelapa di Sampit dan Mentaya Hilir Selatan Kabupaten Kotim tanpa diolah dan dimanfaatkan.

BANJARMASINPOST.CO.ID/FATURAHMAN
Mulyadi alias Pak Mul saat mengupas buah kelapa di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah ( Kalteng). 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, SAMPIT - Kecamatan Teluk Sampit dan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS) , Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), hingga, Selasa (28/7/2020) dikenal sebagai daerah penghasil buah kelapa atau nyiur.

Dua kecamatan ini, terdapat ribuan pohon kelapa milik kebun masyarakat sejak dahulu, yang dipelihara secara turun temurun.

Sehingga, banyak dilirik pengusaha dari Kalsel dan kabupaten lain untuk memanfaatkan atau membeli buah kelapa hasil kebun warga Kotim tersebut.

Namun sayangnya, tidak semua bagian kelapa yang dimanfaatkan oleh warga Samuda Kecamatan Mentaya Hilir Selatan maupun Warga Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit.

Pantauan di pinggiran Jalan Penghubung Sampit (Kabupaten Kotim) ke Kuala Pembuang (Seruyan), ada ratusan sabut kelapa yang dibakar yang tidak dimanfaatkan oleh pemilik kebun.

VIRAL Video Pria di Sampit Injak Kepala Kucing Lagi Hamil hingga Mati, Pemilik Toko Ngeri Melihat

Bupati Kotim Terima Bantuan Alat PCR Bantuan Presiden Jokowi, Swab RS Murjani Sampit Makin Cepat

Warga Bantaran Sungai Mentaya Sampit Pilih Mancing Saluang untuk Ini

Pendangkalan Sungai Mentaya Kabupaten Kotim Sudah Terjadi Sejak 30 Tahun Silam

Meskipun, sabut kelapa tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk alat pencuci piring mapun pembersih alat lainnya.

Mukyadi alias Imul berumur 54 tahun, merupakan salah seorang pekerja pengupas buah kelapa di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Selasa (28/7/2020). 

Pak Mul, panggilan akrabnya, mengaku hanya merupakan orang upahan pemilik kebun saja untuk mengupas kulit kelapa.

"Yang dijual kepada pengepul hanya batok kelapanya saja. Kalau untuk sabut kelapnya, memang dibuang dan dibakar, sedangkan air kelapa yang tua bisa saja dimanfatkan," ujarnya.

Mul mengatakan, batok kelapa yang dibeli pengepul biasanya dikirim ke Pulau Jawa untuk dimanfaatkan menjadi berbagai macam suvenir, kancing baju, alat dapur dan lainnya.

"Sebenarnya sabut kelapa ini juga bisa dimanfaatkan tetapi jarang yang mau membelinya sehingga kami bakar saja," ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved