Breaking News:

Jendela

Menulis di Era Medsos

Di era ponsel alias gawai ini, hampir setiap orang menulis, tiap hari bahkan tiap saat

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMARIN, 2 Agustus 2020, Banjarmasin Post (BPost) genap berusia 49 tahun. Sejak Mei 2009, saya rutin tiap minggu menulis kolom ‘Jendela’ di koran ini. Artinya, saya sudah menulis lebih dari 11 tahun. Patut kiranya momentum ini saya gunakan untuk berbagi tentang tantangan dan peluang menulis di masa kini.

Di era ponsel alias gawai ini, hampir setiap orang menulis, tiap hari bahkan tiap saat. Berawal dari zaman pesan pendek yang disebut SMS (Short Message System) hingga berbagai aplikasi media sosial saat ini, orang sering berkomunikasi dengan menulis kata-kata. Yang ditulis apa saja, dari yang serius hingga yang remeh temeh, dari yang bermakna hingga yang sia-sia, dari yang nyata hingga yang dusta.

Kalau dulu orang baru bisa menulis untuk publik jika tulisannya diterbitkan media cetak atau elektronik yang dikelola oleh para redaktur profesional, sekarang siapapun bisa menulis untuk publik melalui media sosial. Otoritas redaksi seolah lenyap. Tak ada lagi redaktur yang menyeleksi dan menyunting. Setiap orang adalah redaktur untuk dirinya sendiri. Dunia kepenulisan menjadi sangat terbuka dan egaliter.

Redaksi penerbitan memang tidak begitu diperlukan karena yang menentukan mutu sebuah tulisan adalah publik antah berantah melalui tombol tanda suka, komentar dan/atau membagikannya. Semakin banyak yang suka dan membagikan, konon semakin bernilailah tulisan itu. Kualitas ditentukan oleh kuantitas. Kriteria kualitas menjadi samar bahkan liar, tergantung selera warganet yang membacanya.

Tersebab setiap orang melalui gawainya bisa menerbitkan tulisan di media sosial, maka jumlah tulisan yang terbit setiap menit bahkan detik entah berapa milyar. Belum lagi berapa banyak tulisan yang terbit di media daring yang dikelola secara profesional. Informasi melimpah itu membuat orang sulit fokus, malas membaca detil sehingga yang dibaca judulnya saja, dan mudah termakan berita palsu (hoax).

Karena itu, melempar tulisan di media elektronik saat ini laksana melempar sebiji kerikil ke danau yang luas. Ia menimbulkan sedikit riak, tetapi kemudian sirna. Bahkan bisa jadi seperti menebar segenggam garam di air laut yang sudah asin. Seperti tidak ada efeknya sama sekali. Pembaca yang bisa mengakses memang sangat banyak, tetapi mereka juga bingung memilih di antara tulisan yang amat banyak itu.

Pada saat saya mulai menulis kolom Jendela, media sosial belum seramai sekarang di Indonesia. Namun seiring dengan menjamurnya gawai dengan harga terjangkau, hampir tiap orang dewasa memiliki akun media sosial. Untungnya, BPost bersama jaringan Tribun juga menerbitkan edisi daring, dan kolom saya termasuk di dalamnya. Saya membagikan versi daring kolom saya di facebook kira-kira sejak 2013.

Saya tidak tahu pasti berapa jumlah pembaca kolom saya, baik versi cetak ataupun elektronik. Kadang saya disapa orang tak dikenal, yang mengaku penggemar kolom saya. Ada juga yang rutin mengkliping kolom itu. Ada lagi yang mengirimi saya surat. Sedangkan di facebook, jumlah yang menekan tombol suka berkisar 50 hingga 350 orang saja, dan mayoritas bukan dari lingkungan kerja saya (UIN Antasari).

Seorang penulis tentu akan bahagia manakala mengetahui tulisannya dibaca orang, apalagi jika sampai berhasil menggugah pikiran, perasaan atau tindakan orang lain. Ia akan merasa karyanya berguna bagi pembaca. Namun, jika pembacanya tidak banyak, tak perlulah berkecil hati. Mungkin suatu saat nanti, ada orang-orang yang tertarik membacanya. Mungkin pula ini adalah tantangan yang harus dijawab.Tantangan itu adalah, bagaimana penulis bisa menyajikan tulisan yang menarik sekaligus menginspirasi? Pada era topan informasi ini, orang suka tulisan yang singkat, cepat dan aktual, tetapi akibatnya dangkal. Di sinilah terbuka peluang. Kolom dapat mengisi kekosongan ini dengan menyajikan kedalaman berupa renungan makna dibalik peristiwa, hikmah di balik musibah atau menarik suatu pesan moral.

Saya teringat pada Michel Foucault yang membedakan antara writer (penulis) dan author (pengarang). Setiap kita saat ini bisa menjadi penulis, tetapi belum tentu pengarang. Setiap author adalah writer, tidak sebaliknya. Berbeda dengan penulis/writer, seorang pengarang/author itu karyanya diterima publik sebagai otoritas (authority), yakni pegangan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Meskipun kini ada yang bilang, otoritas sudah mati, saya percaya otoritas akan tetap ada karena sehebat apapun manusia, ia perlu pegangan, dan pegangan itu adalah otoritas. Otoritas tidaklah mati, melainkan terpecah-pecah. Begitulah nasib sebuah tulisan. Sebagian orang menerimanya sebagai otoritas, sebagian lagi mengabaikannya. Ada tulisan yang terus dibaca orang. Ada pula yang tenggelam setelah terbit.

Alhasil, siapapun yang menulis dan apapun bentuk tulisannya di era digital ini, takkan bisa menjadi pusat perhatian apalagi otoritas kecuali ia sangat istimewa. Sebagai penulis, saya belum bisa melahirkan karya yang istimewa, tetapi saya berusaha menyajikan tulisan sederhana yang bermakna. Karena itu, saya berterima kasih kepada Anda yang mau membacanya dan BPost yang sudi menerbitkannya.Selamat Ultah Banjarmasin Post ke-49, tahun menuju keemasan! (*)

 

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved