Breaking News:

Opini Publik

Paradoks Berkelimpahan dan Budaya Unggul

Tantangan bagi rakyat kebanyakan saat ini adalah bagaimana bertahan hidup secara ekonomi.

istimewa/Satrio Wahono
Satrio Wahono 

Oleh: Satrio Wahono Sosiolog dan Magister Filsafat UI

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah situasi pandemi yang masih berlangsung, tantangan bagi rakyat kebanyakan saat ini adalah bagaimana bertahan hidup secara ekonomi. Pasalnya, serangan pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai jelas memandulkan aktivitas ekonomi. Terlepas dari sudah adanya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara umum, aktivitas ekonomi belum menggeliat benar karena masih adanya kasus-kasus baru Covid-19. Sebagai contoh, bioskop sampai saat ini belum bisa dibuka karena kekhawatiran akan virulensi penyakit di ruang tertutup berpendingin udara.

Bahkan jeritan putus asa mulai terdengar dalam bentuk lontaran supaya pemerintah sebaiknya mementingkan ekonomi ketimbang kesehatan, sebuah cetusan yang sebenarnya tidak beralasan karena dua hal tersebut sama pentingnya. Justru keadaan sulit seperti ini harusnya membuat kita mulai mengembangkan budaya unggul dan berupaya lepas dari mentalitas instan yang lahir dari fenomena paradoks berkelimpahan (paradox of plenty).

Merujuk Rhenald Khasali dalam Curse to Blessing (2017), paradoks berkelimpahan adalah kondisi di mana suatu daerah atau negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah, seperti gas, minyak bumi, hasil pertanian, dan lain sebagainya, justru pada akhirnya menjadi miskin. Sebab, masyarakat daerah tersebut terlena dengan kekayaan alam mereka sehingga hanya mengandalkan penjualan bahan mentah untuk keberlangsungan hidup tanpa mau mengembangkan budaya inovasi dan mengolah bahan mentah tersebut.

Kasus berbeda justru bisa kita temukan dalam negara-negara yang minim sumber daya alam dan memiliki banyak kendala bawaan dari segi geografi, seperti tanah tandus, kondisi rawan gempa, dan lain sebagainya. Jepang, misalnya, adalah negara yang sering terkena gempa, memiliki empat musim, dan tidak punya sumber daya alam berlimpah. Akan tetapi, di tengah keterbatasan itu, masyarakat Jepang malah terpacu untuk mencetuskan berbagai inovasi dan kreasi untuk bertahan hidup. Mereka mengembangkan teknologi konstruksi rawan gempa untuk membiasakan masyarakat bersahabat dengan bencana alam tersebut. Juga, mereka mencetuskan teknologi-teknologi mutakhir berbasiskan ide yang bisa diekspor ke seantero dunia guna mendatangkan devisa. Sony dan Nintendo lain adalah dua contoh merek terkenal industri kreatif yang produk Playsation dan Nintendo Switch-nya merajai industri game konsol global.

Singkat kata, masyarakat tanpa sumber daya alam berlimpah berpotensi tinggi melahirkan budaya unggul (culture of excellence). Inilah budaya yang mengandalkan produktivitas dan etos kerja profesional guna menghasilkan komoditas-komoditas bernilai unggul dan bernilai tambah. Turunan budaya ini adalah pemeo yang sering kita dengar tapi acap kita abaikan: kerja keras dan kerja cerdas.

Tanpa produktivitas berpelumas kreativitas, inovasi, dan daya lenting (resiliensi), pelemahan ekonomi bisa menjadi niscaya sehingga bisa melahirkan depresi: kondisi ketika satu negara mengalami pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kwartal dalam setahun. Atau, bahkan resesi tatkala pertumbuhan ekonomi negatif berlanjut menjadi tiga kwartal lebih. Bahasa gampangnya, depresi adalah saat Anda melihat tetangga Anda kelaparan, sementara resesi itu jika Anda sendiri kemudian sudah mulai merasakan kelaparan.

Karena itu, untuk menghindari depresi dan resesi ada beberapa hal terkait budaya unggul yang bisa ditempuh. Pertama, masyarakat mesti mulai mengembangkan pola pikir (mindset) produktif, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi pandemi. Sudah saatnya kita mengadopsi mentalitas pengemudi (driving mentality) ketimbang penumpang (passenger mentality) yang sekadar menunggu kebijakan pemerintah atau belas kasih dari orang lain. Misalnya, masyarakat yang kehilangan pekerjaan bisa memanfaatkan barang-barang koleksi yang ada untuk dijual guna mendapatkan penghasilan tambahan. Penulis sendiri pernah melakukan ini ketika menjual ratusan komik langkanya di kala pemberlakuan PSBB. Sementara bagi masyarakat yang masih beruntung memiliki pekerjaan tetap, mulailah membangun budaya intrapreneurship alih-alih entrepeneurship. Kultur intrapreneurship adalah budaya kewirausahaan yang ditanamkan saat bekerja di dalam perusahaan. Misalnya, pekerja bisa menciptakan brand atau produk baru bagi perusahaan, menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi kerja, dan sebagainya.

Kedua, lembaga pendidikan perlu menanamkan budaya unggul dan mentalitas produktif secara menyenangkan lewat pengenalan kembali permainan-permainan (dolanan) tradisional negeri ini. Sebagai contoh, permainan tradisonal catur harimau ternyata bisa menanamkan nilai-nilai pemikiran analitis, strategis, kooperatif (bekerja sama), dan integratif yang jelas sangat mendukung produktivitas di dalam dunia kerja (lihat Nat J. Colletta dalam Kebudayaan dan Pembangunan, Yayasan Obor Indonesia, 1987).

Ketiga, pemerintah harus membantu meningkatkan suplai uang dengan memberikan program-program karitatif atau bantuan, seperti bantuan uang tunai, bantuan biaya pendidikan, subsidi iuran kesehatan, program relaksasi pembayaran kredit, program bantuan modal kerja, dan lain sebagainya seraya memastikan penyaluran bantuan itu tepat sasaran. Pasalnya, Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Amzulian Rifai, menyatakan bahwa selama masa pandemi, 80 persen pengaduan masyarakat yang datang ke Ombudsman adalah soal penyaluran bantuan sosial. Artinya, penyaluran bantuan sudah menjadi soal serius yang perlu penanganan segera.

Berbekal ketiga langkah di atas, semoga bangsa ini bisa meninggalkan mentalitas instan akibat paradoks berkelimpahan dan mengembangkan budaya unggul produktif. Sehingga, kita bisa bersama-sama bertahan melewati dampak ekonomi akibat pandemi saat ini. Semoga Tuhan senantiasa melindungi negeri ini. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved