Breaking News:

Tajuk

Covid 19 dan Stunting

Fakta yang terjadi, hari demi hari daftar korban keganasan Covid-19 terus bertambah

BANJARMASINPOST.CO.ID - KAPAN berakhirnya pandemi corona atau Covid 19? Hingga kini tanda tanya besar itu belum ada yang memberikan jawaban dengan pasti. Yang ada hanya doa dan harapan agar vaksinnya segera ditemukan.

Fakta yang terjadi, hari demi hari daftar korban keganasan Covid-19 terus bertambah. Worldometers.info, Sabtu (8/8/2020) sekitar pukul 08.00 WIB, melansir kasus Covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai 19.541.216 kasus. Dari jumlah tersebut, terdiri atas 724.050 orang meninggal dunia dan 12.544.479 pasien telah sembuh. Sementara itu ada 6.272.687 kasus aktif atau pasien dalam perawatan yang tersebar di berbagai negara.

Keberuntungan belum berpihak kepada republik ini. Saat masih terus berjuang keras menurunkan angka kasus Covid 19, bangsa ini dihadapkan pada kasus lama yang hingga sekarang belum juga teratasi, yakni stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) akibat kekurangan unsur seng (Zn). Dikhawatirkan, bila tidak ditangani secara serius stunting ini akan jadi lebih buruk lagi akibat pandemi Covid-19 ini.

Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2017, prevalensi stunting Indonesia menempati urutan kelima terbesar di dunia. Dari 159 juta anak yang stunting di seluruh dunia, 9 juta di antaranya tinggal di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019 bahkan menunjukkan bahwa prevalensi stunting mencapai 27,67 persen. Artinya, setiap 10 anak Indonesia, ada 3 orang di antaranya yang mengalami stunting. Angka ini juga masih di atas batas yang disyaratkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20 persen.

Kita patut bersyukur, Presiden Joko Widodo tidak tinggal diam dengan ancaman akan memburuknya kasus stunting ini. Dia meminta kepada jajarannya fokus menurunkan angka stunting ini. Setidaknya penurunkan itu dilakukan di sepuluh provinsi di Indonesia. Sebab, angka stunting di sepuluh provinsi tersebut masih tinggi. Ke-10 provinsi tersebut yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Sekarang tinggal kesungguhan dari jajarannya untuk menyikapinya. Serius atau tidak. Khususnya Kalsel, kita mengharapkan mulai dari gubernur, wali kota, bupati hingga aktivis Posyandu berada dalam satu kata dan tindakan; Serius menurunkan angka stunting ini.

Kita tidak boleh menganggap remeh Covid 19, begitu juga dengan stunting. Stunting ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan terhambat, tapi juga terkait dengan perkembangan otak yang tidak maksimal. Hal itu menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Kita tidak ingin Kalsel nantinya memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tidak mampu bersaing dengan SDM nasional, bahkan internasional. Ayo kita bersama-sama perangi stunting. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved