Breaking News:

Jendela

Tren dan Filsafat Bersepeda

Bersepeda sebagai gaya hidup kekinian tampaknya bermula dari ibukota Jakarta

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI masa krisis Covid-19 ini, saya dan istri sering berolahraga jalan kaki. Biasanya kami jalan kaki hanya di akhir pekan satu atau dua kali. Sekarang, di hari-hari kerja kadang kami juga melakukannya. Di jalan, kami sering bertemu orang-orang yang juga berolahraga jalan kaki atau lari. Tetapi yang makin banyak adalah orang-orang yang naik sepeda. Bersepeda menjadi olahraga yang trendy saat ini.

Bersepeda sebagai gaya hidup kekinian tampaknya bermula dari ibukota Jakarta dan/atau kota-kota provinsi di Indonesia, terutama yang diperagakan oleh kelas menengah, yakni orang-orang berduit dari pegawai negeri, pejabat, pengusaha hingga pesohor atau selebritas. Sebagai gaya hidup, bersepeda tidak hanya untuk olahraga, melainkan menunjukkan keistimewaan kelas, selera dan kesenangan.

Sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan tinggi dan persediaan kurang, maka harga akan naik. Kini harga sepeda melambung dua kali lipat bahkan lebih. Harganya berkisar dari jutaan hingga puluhan juta. Sepeda lipat Brompton buatan Inggris itu bisa mencapai Rp 50 hingga Rp 75 juta! Namun, sepeda yang harga ratusan ribu rupiah juga masih ada, termasuk sepeda bekas. Yang jelas, kini semuanya laris-manis.

Dalam banyak hal, bersepeda itu tentu sangat baik. Pertama, bagi pekerja yang kurang gerak, bersepeda membuatnya bergerak. Kedua, bersepeda tidak mengotori udara, sehingga udara kita makin bersih dan sehat. Ketiga, secara ekonomis bersepeda lebih hemat karena tidak perlu bahan bakar dan tidak harus bayar pajak. Keempat, tidak ada syarat harus memiliki SIM. Yang penting dianya bisa bersepeda.

Sebagai perbandingan, di Belanda orang tiap hari bersepeda. Bahkan anak-anak usia TK juga dianjurkan bersepeda ke sekolah dengan didampingi orangtuanya. Lapangan stasiun kereta dipenuhi ribuan sepeda yang diparkir bertingkat-tingkat. Kini bahkan ada parkir sepeda elektronik. Kampus, sekolah, kantor pemerintahan, pasar dan tempat publik lainnya, juga menyediakan tempat parkir sepeda yang luas.

Karena bersepeda adalah kebutuhan publik, maka pemerintah menyediakan jalan khusus untuk sepeda, yang tidak boleh dilewati oleh sepeda motor apalagi mobil. Biasanya jalan khusus ini berwarna oren dan posisinya di tepi antara jalan besar dan trotoar. Untuk menyeberang jalan, tersedia tombol lampu lalu lintas yang siap ditekan oleh pesepeda dan pejalan kaki. Jadi, bersepeda terasa lebih aman dan nyaman.

Akankah budaya bersepeda di negeri kita saat ini nanti berkembang menjadi kebiasaan massif seperti di Belanda? Mungkin saja, asalkan budaya bersepeda ini berkembang menjadi budaya publik secara luas, bukan di kalangan kelas tertentu saja. Tetapi dalam hal ini saya sangat ragu karena biasanya suatu tren tidak akan bertahan lama. Tren lahir dari ikut-ikutan belaka, bukan dari kesadaran akan kebutuhan.

Selain itu, tren ini bisa saja bertahan jika pemeritah menyediakan jalan dan parkir khusus untuk sepeda. Namun, lagi-lagi saya ragu. Alih-alih membuat jalur khusus sepeda, para pejabat seringkali gowes untuk seremoni belaka, dengan pengawalan polisi yang justru membuat jalan macet. Yang kita dengar kini adalah, pemerintah, sebelum menyediakan layanan prima, sudah siap-siap memungut pajak sepeda!

Di sisi lain, Indonesia dan Belanda juga punya kesamaan perihal sepeda. Karena kini permintaan sepeda meningkat dan harganya makin mahal, maka pencurian sepeda mulai marak di Indonesia. Di Belanda, pecurian sepeda juga sering terjadi. Bahkan seorang teman bercerita, ketika dia melaporkan sepedanya dicuri orang kepada polisi, dengan santai polisi Belanda itu bilang,”Curi saja lagi sepeda yang lain!”

Terlepas dari soal tren, kesehatan dan ekonomi di atas, bersepeda itu filsafat hidup. Menurut Walter Isaacson (2007: 367) dalam Einstein: His Life and Universe, pada 5 Februari 1930, Einstein menulis surat kepada anaknya, Eduard, berbunyi: ”Hidup ini laksana mengendarai sepeda. Agar kau tetap seimbang, kau harus terus bergerak.” Meskipun Anda pernah mendengarnya, kata-kata ini tetap sangat inspiratif.

Selain keseimbangan, roda sepeda melambangkan filsafat perenial tentang lingkaran dan titik pusat. Lingkaran roda adalah kehidupan atau waktu yang terus berputar dan menggelinding, sedangkan jari-jari yang menghubungkan pinggir lingkaran dengan pusat roda adalah jalan hidup yang ditempuh manusia. Simbol ini mirip gerak planet-planet mengeliligi matahari, atau gerak orang tawaf mengelilingi kakbah.

Alhasil, Covid-19 telah mengubah banyak sisi hidup kita, termasuk tren bersepeda. Selain gaya hidup, tujuan utama bersepeda adalah menjaga kesehatan. Orang harus terus bergerak agar hidup seimbang, dan seimbang itu sehat. Namun ini tidak cukup. Orang tidak hanya asal bergerak, tetapi bergerak dalam bimbingan pusat kehidupan sebagai asal sekaligus tujuan hidup kita, yaitu Sang Pencipta semesta. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved