Breaking News:

Jendela

Perangkap Perlombaan Senjata

Dalam perlombaan ini, para pembeli menghabiskan duit banyak sekali, sedangkan yang diuntungkan adalah si penjual senjata.

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh Prof Dr H Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SALAH satu kekonyolan yang mengerikan dalam hidup kita saat ini, kata Rolf Dobelli dalam The Art of the Good Life (2020: 221-224), adalah perlombaan senjata. Demi rasa aman, satu negara terpaksa membeli senjata karena negara lain juga membelinya. Dalam perlombaan ini, para pembeli menghabiskan duit banyak sekali, sedangkan yang diuntungkan adalah si penjual senjata. Perangkap perlombaan senjata ini ternyata tanpa kita sadari menimpa banyak sisi kehidupan manusia.

Aplikasi media sosial dibuat sedemikian rupa agar orang terikat secara psikologis kepadanya. Ketika Anda mengunggah sesuatu di media sosial semata-mata karena teman-teman Anda melakukannya, maka Anda dan mereka bisa terperangkap dalam ‘perlombaan senjata’. Tiap orang akan terdorong mengunggah sesuatu tanpa akhir, tanpa memikirkan lagi manfaatnya, dan yang paling diuntungkan adalah perusahaan media sosial.

Kini para akademisi dihargai berdasarkan jumlah publikasi penelitiannya dan kutipan orang terhadapnya. Akibatnya, mereka berlomba memperbanyak publikasi dan kutipan. Semakin banyak publikasi, semakin banyak pula yang harus diproduksi dan dikutip. Anehnya, meski jumlah publikasi ilmiah meningkat drastis, terobosan ilmiah para akademisi zaman ini kalah jauh dengan masa Einstein seratus tahun silam, ketika publikasi ilmiah tidak sampai satu persen dari jumlah sekarang.

Dua contoh dari Dobelli di atas mungkin bisa ditambahkan di dunia politik, misalnya pilkada. Jika pihak lawan berani menyewa ‘perahu partai’ dengan mahar sekian banyak, mengapa kita tidak? Jika pihak saingan sanggup mengerahkan dana besar untuk kampanye, menyiapkan alat peraga bahkan mungkin ‘serangan fajar’, mengapa kita tidak? Tetapi, dalam perlombaan ini, akhirnya siapakah yang paling diuntungkan: si pejabat terpilih, rakyat atau penyandang dana?

Mengapa pola ‘perlombaan senjata’ ini terjadi? Pertama, kita umumnya latah, suka ikut-ikutan dan takut ketinggalan. Kita ingin menyamai dan menyerupai orang lain, dan lebih berbangga lagi jika bisa mengungguli orang lain. Kecenderungan ini mungkin alamiah belaka. Kita merasa berharga ketika orang lain menghargai kita. Namun, sikap mental seperti ini sangat rentan karena kita meletakkan nilai diri kita pada sesuatu yang berada di luar kendali kita.

Kedua, dunia semakin diukur dengan jumlah, kuantitas atau angka-angka. Akibatnya kualitas-kualitas yang menopang kemanusiaan kita seperti kejujuran, keadilan, kepedulian dan cinta kasih kurang dipedulikan. Media suka mencatat dan menokohkan orang-orang terkaya di dunia, bukan orang-orang yang bahagia di dunia karena kekayaan bisa dihitung, kebahagiaan sulit diukur. Pemenang dalam perlombaan hanya bisa ditentukan dengan kuantitas, meskipun yang diklaim adalah kualitas.

Ketiga, manusia sering mengabaikan tujuan hidup tertinggi. Banyak orang pintar zaman ini percaya bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya melalui proses evolusi tanpa peran Tuhan yang menciptakannya. Karena itu, membicarakan tujuan keberadaan dunia, termasuk tujuan tertinggi hidup manusia, sama sekali tidak relevan. Tujuan hidup itu sederhana saja: ingin kaya, terkenal dan berkuasa. Tapi untuk apa kekayaan, kekuasaan dan ketenaran itu? Tak pernah/perlu dipikiran!

Semua sebab di atas, yakni suka ikut-ikutan tanpa memikirkan manfaat, kegandrungan pada kuantitas sambil mengabaikan kualitas, dan kehilangan arah hidup yang sejati, semuanya akan menurunkan derajat kemanusiaan kita dan merusak kebahagiaan kita. Kerja keras kita dalam hidup laksana mengejar bayang-bayang atau menghampiri fatamorgana, yang hasil akhirnya adalah kesia-siaan belaka. Inilah yang disebut kaum Sufi sebagai ‘dunia’ yang keindahannya menipu kita.

Alhasil, kita perlu cermat menghadapi segala jenis perlombaan yang ditawarkan dunia kepada kita, apakah ia benar-benar berguna, menebar kebaikan dan manfaat, ataukah memberikan kebanggaan palsu belaka. Jangan sampai kita terperangkap dalam permainan perlombaan senjata! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved