Breaking News:

Tajuk

Tajuk - Perlu Tindakan Tegas

Kenapa kelangkaan dan melonjaknya harga elpiji tiga kilogram masih terus berulang dan terkesan tak ada penyelesaian.

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID - Warga Banjarmasin dan sekitarnya kini kembali dilanda kesulitan mendapatkan pasokan elpiji tabung tiga kilogram.

Perburuan harus dilakukan agar mendapatkan gas bersubsidi tersebut dari pangkalan atau agen. Faktanya, sebagian warga tetap kesulitan mendapatkannya.

Kalau pun dapat, gas elpiji tiga kilogram tersebut harus dibeli dengan harga yang sangat jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Masalahnya, warga harus membeli gas tersebut di pedagang eceran dengan harga yang mencapai Rp 35 ribu per tabung.

Padahal HET gas elpiji untuk warga miskin tersebut hanya Rp 17.500. Bahkan, karena tak dapat bagian gas melon, ada saja warga yang kembali harus memasak menggunakan minyak tanah.

Ya, masalah kelangkaan dan meroketnya harga gas melon sudah menjadi kisah klasik yang kejadiannya berulang setiap tahun.

Bahkan dalam satu tahun, kejadian seperti ini bisa terjadi beberapa kali. Yang jadi pertanyaan? Kenapa kelangkaan dan melonjaknya harga elpiji tiga kilogram masih terus berulang dan terkesan tak ada penyelesaian.

Memang, terkait langka dan naiknya harga gas melon ini, pihak-pihak terkait kerap melakukan operasi pasar di sejumlah lokasi.

Namun, sepertinya operasi pasar ini hanya solusi sementara. Karena, faktanya kelangkaan dan naiknya harga gas bersubsidi untuk warga miskin itu masih terjadi dan terjadi lagi.

Sepertinya perlu sinergi yang lebih kuat lagi antara pertamina, hiswana migas, pemerintah daerah dan penegak hukum untuk memecahkan permasalahan ini.

Semuanya harus aktif mengusut tuntas penyebab kelangkaan dan naiknya harga si melon.

Dalam hal ini, yang dicari bukan hanya penyebabnya saja. Tapi juga dicari langkah konkret agar penyebab permasalahan itu tak menjadi penyebab permasalahan yang sama di kemudian hari.

Telusuri mulai dari tingkat pedagang eceran yang menjual dengan harga tinggi. Bisa dilacak dari pangkalan atau agen mana dia mendapatkan elpiji dan dengan harga berapa?

Nah, tindakan tegas terhadap pangkalan dan agen ‘nakal’ berupa pencabutan izin atau penghentian distribusi perlu dilakukan, setidaknya memberikan efek jera bagi pangkalan tersebut dan pangkalan lainnya. (*)

Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved