Breaking News:

Tajuk

Menjelang Resesi

Menteri Keuangan Sri Mulyani, memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 berada di kisaran 0 persen hingga minus 2 persen.

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ancaman resesi sudah di depan pintu Indonesia. Setelah dalam kuartal II-2020 ekonomi kita kontraksi minus 5,32 persen, di kuartal III-2020 yang masih lebih dari sebulan lagi, juga terancam tetap tumbuh minus.

Menteri Keuangan Sri Mulyani, memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 berada di kisaran 0 persen hingga minus 2 persen.

Bila prediksi itu menjadi nyata, sekarang kita sedang ‘menyambut’ resesi, dan kuartal IV-2020, secara teknikal Indonesia sudah resesi. Meski, hingga hari ini sang Menteri belum juga mengibarkan bendera putih.

Ada upaya yang sedang digenjot, yang diyakini Sri bisa membalik prediksinya. Yakni, meningkatkan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Prasyarat meningkatkan konsumsi rumah tangga pun telah, sedang dan akan digulirkan. Yakni; Bantuan Rp 2,4 juta untuk pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM); Kredit tanpa bunga bagi 6,2 juta ibu rumah tangga korban PHK; Bantuan Rp 2,4 juta bagi pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Tambahan pendapatan bagi pekerja dan ibu rumah tangga ter-PHK itu, diharapkan meningkatkan daya beli puluhan juta orang. Asumsinya, ketika mendapat ‘uang jajan’ dari pemerintah, mereka pun akan menghabiskan untuk jajan.

Sayangnya, syarat ‘punya uang’ tidaklah cukup. Ada hal lain yang meski secara teoritik tidak masuk dalam rumusan faktor ekonomi, yang kurang diperhatikan. Yakni; Gerak.

Pergerakan orang adalah modal penting untuk menggerakkan roda ekonomi. Sebesar apapun uang di kantong bila kita mager (males gerak), uang itu akan tetap di kantong.

Bila orang mager, cukuplah belanja bahan makanan primer yang diyakini bisa memenuhi kebutuhan gizi dasar. Belanja kebutuhan skunder apalagi tersier yang berbau gaya hidup, tidak akan atau hanyalah sangat sedikit dilakukan.

Investasi pun pasti sangat terbatas dilakukan para pemilik modal, bila pergerakan orang masih sangat terbatas. Sebab, kebutuhan produk orang diam memang tidak banyak.

Bila merancang investasi untuk menghasilkan produk kebutuhan orang diam, para pemilik modal akan berpikir panjang.

Bukankah orang yang sekarang diam, suatu saat akan bergerak leluasa ketika vaksin sudah disuntikkan? Artinya, investisasi di bidang ini tidak memenuhi asas keberlangsungan.

Jadi, bila pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 ingin positif, menggerakkan orang adalah pilihan mutlak. Tentu cara yang ditempuh haruslah bijak dan aman, karena ‘pertumbuhan’ pasien covid-19 masih positif. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved