Breaking News:

Berita Ekonomi

Kebijakan Pemulihan Ekonomi, OJK Catat Kinerja Industri Jasa Keuangan Lebih Optimal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan kewenangan dalam kerangka koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah, Bank Indonesia

Foto OJK Regional IX Kalimantan
Acara OJK Regional IX Kalimantan bersama perbankan, Bank Indonesia Kalsel, dan Ditjen Perbendaharaan Kalsel. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan kewenangan dalam kerangka koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan menyampaikan, sektor jasa keuangan dalam kondisi stabil dan terjaga, namun tetap dalam kewaspadaan mengantisipasi tekanan
perekonomian akibat pandemi Covid- 19.

Deputi Komisioner Humas Logistik OJK, Anto Prabowo, menyatakan optimalisasi berbagai kebijakan di industri jasa keuangan telah membuahkan hasil. Kesimpulan itu merupakan hasil asesmen Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus 2020.

"Penguatan peran sektor jasa keuangan (supply side) dengan berbagai stimulus bisa membantu mendorong kembali gerak roda perekonomian (demand side), dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang baik, sehingga dapat memulai tahapan pemulihan ekonomi nasional," ungkap Anto melalui keterangan resmi OJK kepada Banjarmasinpost.co.id, Jumat (28/8/2020)

DPD Gerindra Kalsel Malah Mendukung Aditya-Wartono, Bagaimana Nasib Syahriani

LINK BPJS Ketenagakerjaan, Ini Cara Cek Subsidi Gaji atau Bantuan Subsidi Upah Rp 600 Ribu

Cuti Ibnu Sina dari Jabatan Wali Kota Banjarmasin Mulai Diproses, Ini Tahapan Pilwali

VIDEO Aksi Damkar Tabalong Evakuasi Binatang Liar

Dipaparkannya, indikator kestabilan kinerja sektor jasa keuangan menunjukkan pasar saham tanggal 26 Agustus ditutup menguat di level 5.340,33.

Sejak 8 Juli 2020, IHSG konsisten di atas level 5.000. Di bulan Juli kinerja IHSG naik 4,98 persen mtm, dan sampai dengan 26 Agustus naik 3,70% mtd.

"Dari sisi intermediasi industri jasa keuangan, mulai bergeraknya aktivitas ekonomi pasca pelonggaran pemberlakuan pembatasan sosial mendorong pertumbuhan kredit perbankan sedikit meningkat menjadi 1,53 persen yoy. Namun demikian, pertumbuhan piutang pembiayaan masih memperlihatkan kontraksi yang lebih dalam," imbuhnya.

Profil risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga dalam level yang manageable dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,22% sementara NPL net tercatat 1,12 persen dan Rasio NPF sebesar 5,5 persen.

Hal ini dikarenakan sektor jasa keuangan telah mengantisipasi risiko dengan meningkatkan pencadangan yang dibentuk dari permodalan.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) perbankan tercatat sebesar 23,10 persen dan rasio permodalan (Risk-Based Capital) untuk industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 502 persen dan 321 persen, jauh di atas ketentuan yang ditetapkan.

Selain itu, alat likuid yang dimiliki perbankan terus mengalami peningkatan yang ditandai dengan pertumbuhan DPK. Per 14 Agustus 2020, Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK terpantau pada level 128,01 persen dan 27,15 persen, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

OJK mendorong konsolidasi perbankan guna memperkuat daya saing industri perbankan dalam menghadapi pandemi Covid 19.

Terdapat beberapa bank yang berpindah kelompok bank akibat merger atau tambahan modal, OJK mencatat 4 bank berpindah dari BUKU I ke BUKU II, dan 2 Bank berpindah dari BUKU III ke BUKU IV. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved