Breaking News:

Cagar Budaya Rumah Adat Banjar

Travel: Melihat Rumah Berusia Ratusan Tahun di Martapura Kalsel

Destinasi wisata di Kota Serambi Mekkah Martapura Kabupaten Banjar tak ada habisnya. Salah satu destinasi favorit wisatawan adalah cagar budaya rumah

Banjarmasinpost.co.id/milna sari
Cagar budaya rumah adat Banjar di Teluk Selong Ulu di Martapura Barat Kabupaten Banjar. 

Editor: Edi Nugroho

Banjarmasinpost.co.id, Martapura - Destinasi wisata di Kota Serambi Mekkah Martapura Kabupaten Banjar tak ada habisnya. Salah satu destinasi favorit wisatawan adalah cagar budaya rumah adat Banjar di Teluk Selong Ulu di Martapura Barat Kabupaten Banjar.

Rumah adat ini hingga kini masih terawat oleh pemiliknya yang juga masih mendiami rumah tersebut.

Menarik tak hanya satu, ada dua buah rumah yang ada di kawasan cagar budaya tersebut yakni rumah adat Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku.

Khusus untuk tipe Bubungan Tinggi sebenarnya masih banyak karena dijadikan arsitektur gedung-gedung instansi pemerintahan seperti kantor gubernur, kantor wali kota, dan sebagainya di Kalimantan Selatan, namun rata-rata sudah kontruksi beton. Sementara yang benar-benar asli berbahan kayu ulin sudah sangat langka.

Komentar Mencolok Nia Ramadhani ke Rezky Adhitya & Citra Kirana yang Jadi Ortu, Istri Ardi Desak Ini

KalselPedia : Mess L di Banjarbaru Memiliki 12 Kamar

Warga di Kecamatan Sungai Loban Ngobrol Santai Dengan Dandim, Ini Situasinya

LPG 3 Kilogram di Banjarbaru Langka, Tiah Terpaksa Masak Pakai Tungku Kayu

Kedua rumah ini pun dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Keduanya juga masih terawat meski sudah berusia ratusan tahun. Rumah Bubungan Tinggi misalnya sudah berusia sekitar 207 tahun sedangkan rumah Gajah Baliku berusia sekitar 160 tahun.

Para pemiliknya membuka waktu operasional kunjungan wisatawan tiap harinya, sehingga siapa saja bisa bebas berkunjung dan melihat-lihat seperti apa sejatinya rumah adat Banjar ini, yaitu dari pukul 10.00 Wita hingga 17.00 Wita. Pemiliknya juga bisa menjelaskan apa saja bagian dari rumah tersebut yang mengandung unsur tradisional Banjar ke para turis.

Rumah Banjar Bubungan Tinggi yang ada di lokasi ini bertipe rumah panggung. Menurut sejarahnya, dibangun oleh pemilik awalnya, yaitu sepasang suami istri HM Arif dan Hj Fatimah pada 1811. Sedangkan rumah Gajah Baliku dibangun oleh H Jalil dan Hj Esah.

Berada satu kawasan, pada dasarnya pemilik kedua rumah tersebut adalah orangtua dan anak. HM Arif dan Hj Fatimah membuat rumah untuk anaknya H Jalil dan Hj Esah. Pewaris rumah Gajah Baliku memanggil pewaris rumah Bubungan Tinggi dengan sebutan Acil atau tante.

Tak hanya meninggalkan warisan rumah yang sudah langka, benda-benda milik pembangun rumah juga masih ada di dalam rumah. Benda-benda tersebut dipajang di dalam rumah untuk dilihat wisatawan yang datang.

Halaman
123
Penulis: Milna Sari
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved