Breaking News:

Tajuk

Dipecat

Ini sebuah sikap tegas yang tidak hanya ditujukan bagi para pelaku, tetapi juga anggota TNI-AD secara keseluruhan.

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEPALA Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa memastikan anggota TNI-AD yang melakukan penyerangan terhadap Polsek Ciracas, Polsek Pasar Rebo dan sejumlah properti milik warga di Jakarta pada Sabtu (29/8) dini hari akan dipecat.

“Sejauh ini dari hasil pemeriksaan, semua yang diperiksa ini sudah memenuhi pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer untuk diberikan hukuman tambahan berupa pemecatan dari dinas militer,” tegasnya dalam jumpa pers di Mabes TNI AD, Jakarta, Minggu (30/8).

Ini sebuah sikap tegas yang tidak hanya ditujukan bagi para pelaku, tetapi juga anggota TNI-AD secara keseluruhan. Mereka yang bersikap arogan, main hakim sendiri dan melakukan tindak pidana akan merasakan hukuman berat.

Pemecatan adalah hukuman berat bagi tentara. Mereka tidak akan lagi dihargai masyarakat. Padahal sebelumnya mereka disegani atau bahkan ditakuti. Selain itu tentunya pemecatan membuat aparat negara tidak akan lagi mendapatkan jaminan hidup.

Petinggi TNI memang perlu bersikap tegas karena ini bukan kali pertama terjadi. Terlebih di sejumlah kejadian korbannya tidak hanya polisi, tetapi juga warga.

Sikap tegas ini juga untuk membuktikan TNI tidak melindungi anggotanya yang berbuat salah. Selama ini ada anggapan anggota TNI saling melindungi meski salah karena jiwa korps.

Selain itu jarang terekspos pengadilan terhadap anggota TNI yang melakukan pelanggaran hukum. Semua ini penting agar kepercayaan dan kebanggaan masyarakat terhadap TNI tidak luntur.

Masyarakat senang melihat petinggi TNI dan Polri seiring sejalan setiap ada acara. Mereka juga terlihat kompak mengatasi persoalan yang ada di masyarakat.

Namun ternyata kekompakan itu belum turun ke anak buah. Hanya karena tersenggol bisa saling serang. Hanya karena masalah helm bisa terjadi pengerusakan.

Masalah-masalah kecil seperti ini sepertinya tidak perlu terjadi. Soalnya masyarakat akan menilai. Lihat saja berbagai komentar yang diberikan masyarakat melalui situs pemberitaan dan media sosial mengenai penyerangan tersebut.

Kiranya anggota TNI dan Polri terutama yang di tingkat bawah diberi pemahaman mengenai hukum. Soalnya kendati mereka aparat penegak hukum bukan berarti mereka paham dengan hukum.

Demikian pula mengenai perkembangan zaman terutama masalah penggunaan media sosial. Hal ini karena dalam pemeriksaan terhadap mereka yang diduga terlibat, menurut Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI, Mayjen Eddy Rate Muis, penyerangan bermula dari informasi yang disebar seorang anggota TNI.

Ternyata belakangan informasi tersebut hoaks. Oknum itu pun kemungkinan dijerat dengan Undang-Udang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ini membuktikan bahwa anggota TNI dan Polri itu tidak ada bedanya dengan masyarakat. Aparat bahkan seharusnya dihukum lebih berat daripada masyarakat jika melakukan kesalahan yang sama.

Mari kita belajar mematuhi hukum sehingga negeri ini damai dan teratur. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved