Breaking News:

Jendela

Wisuda Jalan Tengah

Ada perguruan tinggi yang hanya menampilkan sang rektor sendirian di ruang wisuda yang kosong.

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh:Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - WISUDA yang biasanya mengumpulkan banyak orang di satu tempat tertutup merupakan perhelatan yang dihindari di masa pandemi ini. Semula banyak perguruan tinggi yang menunda pelaksanaan wisuda dengan harapan Covid-19 segera berlalu. Ternyata, bulan demi bulan, ancaman virus Corona masih belum juga sirna. Daripada terus menunggu tak menentu, akhirnya perlu dicari jalan tengah antara wisuda tatap muka dan tidak wisuda sama sekali.

Jalan tengah itu indah, tetapi tidak selalu mudah. Ada perguruan tinggi yang hanya menampilkan sang rektor sendirian di ruang wisuda yang kosong. Adapula rektor, senat dan beberapa yang diwisuda hadir tatap-muka, sedangkan yang lainnya daring saja. Ada lagi yang mewisuda robot, yang diberi foto wisudawan/ti. Tak kalah menariknya, wisudawan/ti menaiki kendaraan dan tali toganya dipindahkan rektor tanpa ia turun dari kendaraan itu. Ini yang disebut wisuda drive-thru.

Karena Covid-19, wisuda UIN Antasari yang direncanakan April 2020 lalu juga ditunda, dengan harapan wabah akan cepat berlalu. Ternyata, sampai Agustus 2020, Corona masih belum mereda. Kami pun akhirnya memutuskan ‘wisuda jalan tengah’. Yang hadir tatap muka hanyalah wisudawan/ti terbaik dari tiap fakultas dan pascasarjana, dan pejabat yang hadir hanya ketua senat, rektor dan wakil rektor bidang akademik dan pengembangan lembaga. Sisanya ikut secara daring.

Sudah maklum, salah satu yang amat bernilai sebagai kenang-kenangan wisuda adalah foto. Karena itu, kami mencoba mencarikan jalan keluar. Para wisudawan-ti yang mengambil baju toga ke kampus diundang untuk befoto mengenakan baju toganya bersama pejabat fakultas atau pascasarjana dengan latar belakang yang sudah disiapkan. Seorang fotografer profesional siap menjeprit. Agar tidak terjadi kerumunan, kedatangan mereka dijadwalkan, digilirkan dan diawasi.

Pemotretan secara bergiliran tersebut tampaknya cukup melegakan bagi sebagian wisudawan/ti, meskipun tidak semua melaksanakannya. Sekitar dua pertiga peserta wisuda dengan gembira datang ke kampus untuk berfoto, dan banyak yang kemudian mengunggah foto mereka di media sosial. Saya ditanya, kenapa pemotretan itu dilaksanakan sebelum upacara resmi wisuda? Saya katakan, selain lebih praktis, anggap saja seperti foto pre-wedding, maka ini adalah foto pre-graduation!

Di sisi lain, persiapan wisuda daring ternyata tidak kalah rumit. Saya menyaksikan sejenak betapa repotnya panitia menata berbagai alat elektronik. Agar tidak kewalahan, kami menggandeng layanan virtual sebuah televisi swasta lokal. Gladi yang biasanya cukup sekali, sekarang sampai tiga kali! Protokol kesehatan diikuti dengan saksama. Uniknya lagi, jumlah teknisi, panitia dan wartawan, jika digabung justru lebih banyak dari pejabat dan wisudawan/ti yang hadir tatap muka di ruang acara.

Bagaimanapun, wisuda daring tak sama dengan tatap muka. Dunia maya bukanlah dunia nyata. Namun, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Seorang wisudawati asal Turki, Ayse Guner, yang berada di Semarang, bisa menyampaikan pidatonya secara daring dengan baik. Kemarin, videonya di IG UIN Antasari sudah ditonton lebih dari enam ribu kali. Begitu pula, wisudawan bernama Mujahid yang berada di rumah sakit mendampingi ayahnya yang sakit, tetap bisa mengikuti wisuda dan mengenakan toga sambil menatap layar.

Apa kiranya pelajaran yang bisa kita ambil dari semua ini? Dalam menyikapi masalah apapun, kita sebaiknya realistis, melihat kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan saja. Sikap realistis itu akan menuntun kita pada jalan tengah antara harapan yang ideal dan keputusasaan.
Yang ideal adalah wisuda tatap muka. Yang putus asa adalah tidak mau wisuda sama sekali. Wisuda daring dengan berbagai variasinya adalah jalan tengah itu, yang bersifat realistis.
Sikap realistis itulah yang diajarkan oleh para fuqaha dalam kaidah terkenal: mâ lâ yudraku kulluh, lâ yutraku kulluh (apa yang tidak bisa didapatkan semuanya, jangan dibuang semuanya).

Sikap realistis ini sangat berlawanan dengan sikap hitam-putih, yang berpikir all or nothing, semua atau tidak sama sekali. Sikap hitam-putih sangat berbahaya karena membenturkan manusia pada kenyataan yang kompleks. Para teroris mau melakukan bom bunuh diri antara lain karena berpikir hitam-putih.

Akhirnya, keterbatasan melaksanakan wisuda di masa pandemi ini selayaknya mendorong kita untuk merenung, apa artinya kesarjanaan itu? Apakah sekadar foto wisuda berbaju toga ataukah suatu simbol keilmuan dan tanggungjawab sosial? Ibarat kawin, Anda pilih mana: pesta yang mewah tetapi setelah itu Anda hidup merana, ataukah pesta sederhana tetapi setelah itu Anda hidup sejahtera bahagia? Wisuda adalah simbol kesarjanaan. Simbol tanpa isi hanya akan melahirkan kekecewaan. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved