Breaking News:

Opini Publik

Opini - Melawan Bumbung Kosong

Pandemi Covid-19 rupanya membuat parpol mengambil jalan pintas untuk berkoalisi raksasa dengan meloloskan calon tunggal agar mudah meraih kemenangan.

Oleh: Paulus Mujiran (Pengamat Politik, Alumnus Pascasarjana Undip Semarang)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Melawan kotak atau bumbung kosong rupanya tidak terhindarkan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020.

Perhimpunan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) memperkirakan terdapat 31 daerah yang terdiri dari 5 kota dan 26 kabupaten dengan calon tunggal.

Di tengah pandemi Covid-19 munculnya calon tunggal kian tidak terhindarkan karena pragmatisme partai politik (Parpol) dalam mengusung calon.

Fenomena calon tunggal karena itu menjadi anomali fungsi parpol sebagai ajang kaderisasi untuk menghasilkan pemimpin.

Pandemi Covid-19 rupanya membuat parpol mengambil jalan pintas untuk berkoalisi raksasa dengan meloloskan calon tunggal agar mudah meraih kemenangan.

Jalan pintas mereka tempuh karena tidak mau repot. Hadirnya bumbung kosong menjadi kritik keras kepada calon bahwa seharusnya mereka mendekati konstituen sebagai pemegang suara daripada berlomba-lomba menguasai mayoritas partai.

Calon beranggapan dengan menguasai mayoritas partai kemenangan sudah diraih. Mereka berasumsi prosentasi kursi di legislatif paralel dengan dukungan konstituen.

Munculnya calon tunggal menurut Iza Rumesten (2016) dipengaruhi fenomena calon tunggal dalam Pilkada salah satunya adanya mahar politik yang mahal dari partai pengusung.

Mahar menjadi kendala utama parpol mencalonkan kadernya dalam pilkada. Sehingga ketika ada petahana kuat atau calon yang popularitasnya tinggi seperti anak elit partai maka calon lain dipastikan akan berhitung ulang untuk maju.

Halaman
1234
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved