Breaking News:

Opini Publik

Opini - Melawan Bumbung Kosong

Pandemi Covid-19 rupanya membuat parpol mengambil jalan pintas untuk berkoalisi raksasa dengan meloloskan calon tunggal agar mudah meraih kemenangan.

Editor: Syaiful Akhyar

Ketua Umum Prabowo Subianto seperti dikutip Tirto.co.id (3/8) pernah menyatakan paling tidak calon gubernur harus mengeluarkan dana Rp 300 miliar.

Prabowo mengatakan soal modal adalah aspek pertama yang selalu ia tanyakan pada siapapun yang maju lewat Gerindra.

Calon tunggal terjadi karena parpol sebagai mesin politik yang seharusnya melakukan pendidikan politik bagi kader ngadat alias tidak berfungsi.

Akibatnya partai tidak mempunyai kader mumpuni untuk diusung dalam Pilkada. Karena kebingungan mencari kader handal dicarilah kader instan berpopularitas tinggi untuk mendongkrak elektabilitas.

Meminjam Titi Anggranini (2018) calon tunggal dalam Pilkada merupakan fenomena anomali karena kerap terjadi di daerah besar, jumlah pemilih besar dan multipartai.

Parpol mestinya mampu menunjukkan eksistensinya ke hadapan publik bukan justru mengubur diri dengan ramai-ramai mengusung calon tunggal. Padahal Pilkada 2020 menjadi pemanasan strategis menuju 2024.

Calon tunggal membuat persepsi publik bahwa parpol bersangkutan tidak mempunyai kader handal untuk diajukan.

Parpol sebagai institusi rekrutmen politik, harus mampu menunjukkan keberadaannya dengan mengusung calon-calon handal sekaligus menguji apakah mesin politik berfungsi dengan baik.

Dengan mengusung calon tunggal parpol pasti kehilangan momentum melakukan evaluasi kinerja mesin partai.

Parpol secara sadar dan telanjang mengubur dirinya membesarkan kader partai lain atau petahana yang notabene tidak ada kontribusinya bagi partai.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved