Kisah Inspiratif

Kisah Inspiratif, Mulai Kerja Sawah dan Buruh Angkut Pasar, Kini General Manager Hotel di Banjarbaru

Ia punya komitmen hidup berubah lebih baik. Tatkala ekonomi keluarga kekurangan, ia tegar berjuang meski harus kerja buruh kasar hingga capai sukses.

Penulis: Salmah | Editor: Syaiful Akhyar
banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin
Nurul Fahmi, GM Hotel Roditha Banjarbaru 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID - Jika saja ia tidak berubah, tidak mengambil sikap, maka selamanya jadi katak dalam tempurung. Dan ia bersyukur bahwa Tuhan tidak akan mengabaikan orang yang bersungguh-sungguh.

Itulah Nurul Fahmi, SM yang punya komitmen dalam hidup. Punya tujuan jelas dan ia mau berubah. Tatkala ekonomi keluarga tak bisa menopang biaya pendidikan lebih tinggi, ia berusaha mandiri agar tetap sekolah.

Kini pria low profile ini merasakan hasil perjuangan hidup yang awalnya bekerja sebagai pelayan hingga berhasil menjadi general manager.

Fahmi lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara. Saat usia lima tahun, orangtua membawa kami pindah ke Tamban, Batola, untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Dilaporkan Mengamuk, Petugas Polsek Tanjung Kalsel Sita Sebilah Parang dan Pisau dari Pria ini

BTalk BPost Kamis (3/9/2020), Mau Tahu Tampil Cantik Rawat Kulit Sendiri? Jangan Lewatkan Tipsnya!

PLN Siap Laksanakan Keputusan Menteri ESDM Terkait Penurunan Tarif Listrik Golongan Tegangan Rendah

Saat kelas dua SMA, ibunya meninggal. Kondisi ini membuat saya goyang, sebab bukan hanya masalah biaya sekolah, tapi ia juga masih perlu dukungan orangtua. Sepeninggal ibu, Ayah pun kawin lagi.

"Tentunya saya harus bisa mandiri, sebab ayah saya juga punya tanggungjawab baru. Kemudian saya bekerja mengumpulkan lampit (rotan) agar mampu beli buku dan bayar SPP, selain itu bantu biaya sekolah dua adik saya," ujar Fahmi.

Dengan kemandirian bekerja, ia bisa menyelesaikan sekolah, hingga akhirnya pada 1988 alhamdulilah saya lulus SMA. Tidak seperti orang lain yang bisa kuliah. Fahmi tak punya biaya cukup untuk kuliah. Selama dua tahun menganggur, sampai akhirnya memutuskan berkumpul dengan ayah di Tamban.

Tak ada pilihan lain, saya kerja di sawah. Jadi petani penggarap lahan sawah orang lain. Hasilnya dibagi dengan pemilik lahan. Pekerjaan itu berlangsung hingga dua tahun," jelasnya.

Fahmi pun dapat kekasih. Orangnya sabar dan sering memotivasi saya untuk maju. Suatu hari ia mengabarkan bahwa di Banjarmasin ada dibuka kursus perhotelan yang notebene merupakan hal pertama di Banjarmasin.

Biaya kursus Rp450 ribu. Ia gunakan uang hasil panen untuk biaya ke Banjarmasin, sekalian bayar uang muka kursus yang ternyata membolehkan bayar cicilan sebanyak empat kali.

"Kursus mulai jam 4 sore sampai 9 malam. Sebelum itu pagi hingga siang saya kerja di Pasar Antasari sebagai buruh angkut. Ya, saya perlu biaya hidup selama kursus," ungkap Fahmi.

Setelah menjalani empat bulan kursus, ia praktik kerja di Hotel Maramin. Selesai training itu ternyata saya langsung diterima bekerja di situ.

Pada 1992 itu jobnya sebagai waiter tapi saya juga sambil cuci piring. Gaji Rp 45 ribu sebulan. Ia pun tinggal di Banjarmasin dan tidur di bedakan (rumah sewa) bersama dua teman untuk menghemat biaya sewa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved