Breaking News:

Opini Publik

Opini - Refleksi Hari Aksara, Menuntaskan Misi Indonesia Bebas Buta Aksara

Buta aksara tidak semata-mata tidak bisa baca, tulis, dan berhitung. Tetapi lebih dalam lagi pada pemaknaan dan pemahaman apa yang dibacanya.

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan (Kepala Perpustakaan STKIP PGRI Banjarmasin)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hampir semua negara masih berjuang untuk menuntaskan angka buta aksara, termasuk Indonesia.

Selain faktor kemiskinan, masih adanya angka buta huruf juga disebabkan oleh lokasi daerah yang terpencil, terpelosok, dan tak terjangkau oleh akses internet (informasi), serta kurangnya motivasi belajar.

Buta aksara tidak semata-mata tidak bisa baca, tulis, dan berhitung. Tetapi lebih dalam lagi pada pemaknaan dan pemahaman apa yang dibacanya.

Untuk menuntaskan angka buta aksara yang masih ada, kita juga seyogyanya mendukung program pengentasan buta aksara yang dilaksanakan pemerintah.

Mulai dari pemutahiran data, strategi penuntasan dengan membuka layanan program pendidikan keaksaran dengan sistem blok atau kluster, pengembangan jejaring dan sinergitas, serta pengembangan program yang inovatif. Keempat program tersebut memiliki tujuan dan teknik berbeda dalam impelementasinya.

Pertama, untuk pemutakhiran data. Hasil survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2019 mencatat bahwa negera ini belum terbebas dari buta aksara, meskipun angka penuntasan buta aksara di usia produktif 15-59 tahun sudah berada di angka 98,22%.

Artinya, tinggal 1,78% angka buta aksara di negeri ini. Namun, masih tingginya persentasi angka buta aksara di enam provinsi, yaitu Papua (21,9%), NTB (7,46%), NTT (4,24%), Sulawesi Selatan (4,22%), Sulawesi Barat (3,98%), dan Kalimantan Barat (3,81%), menjadi PR dan prioritas utama bersama menuntaskan buta aksara.

Memang untuk memperoleh data yang terukur kita tidak serta merta menggantungkan data hasil survey saja. Partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi “data jujur” tentu membantu BPS dalam memvalidkan data.

Keakuratan data tentang angka-angka real sangat kita perlukan demi bebas buta aksara di negeri ini, serta bahan pertimbangan penentuan kebijakan layanan program pendidikan keaksaraan.

Halaman
1234
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved