Breaking News:

Wabah Corona

Pasien Covid-19 Terindikasi Happy Hypoxia, Apa yang Mesti Dilakukan

Happy hypoxia atau silent hypoxemia sebagai penyebab kematian tanpa gejala, bisa dideteksi dini oleh pasien positif terinfeksi Covid-19.

Editor: M.Risman Noor
Freepik
Ilustrasi virus corona 12. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Happy hypoxia atau silent hypoxemia sebagai penyebab kematian tanpa gejala, bisa dideteksi dini oleh pasien positif terinfeksi Covid-19, dengan menggunakan alat yang bernama oxymeter atau oksimeter.

Alat oksimeter ini dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan oksimetri, yaitu mengukur kadar oksigen di dalam darah. Alat ini bisa Anda dapatkan secara mandiri di toko yang menjual peralatan kesehatan. Sehingga, tidak selalu harus pergi ke rumah sakit.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengatakan, pemeriksaan oksimetri ini juga mewakili pemeriksaan atau penilaian terhadap kadar oksigen dalam jaringan atau nilai hipoksia.

"Kalau untuk akurat harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah untuk melihat kadar oksigennya untuk memastikan," kata Agus kepada Kompas.com, Senin (7/9/2020).

Namun, kata Agus, pemeriksaan dengan oksimeter ini tidak cukup dilakukan sekali dalam kurun periode infeksi terjadi.

Driver Ojol di Banjarbaru Ini Sempat Antar Penumpang ke Kalteng, Saat Covid-19 Beralih Antar Makanan

Angka Kematian Nakes RI Akibat Corona Terbesar di Dunia, Ini Datanya Menurut Amnesty International

"Harus diulang berkala, karena kondisi kadar oksigen kan berubah-ubah. Bisa saat ini normal, tiba-tiba besok turun," ujarnya.

Satu alat oksimeter umumnya bisa dipakai berkali-kali untuk melakukan pemeriksaan kadar oksigen dalam darah. Biasanya, hanya diperlukan penggantian baterai pada alat. "(Pemeriksaan oksimetri) satu kali sehari cukup, tapi harus dilakukan setiap hari," tuturnya.

Mengenali indikasi hypoxemia atau hypoxia Oksimeter ini bisa dipergunakan untuk mengukur kadar oksigen perifer, untuk melihat saturasi oksigen perifer di dalam tubuh. Jika dalam pemeriksaan yang Anda lakukan, hasil pada alat oksimeter tersebut menunjukkan angka saturasi 95 ke atas, maka berarti Anda tidak mengalami hypoxemia atau hypoxia.

Sedangkan, jika angka saturasi dari pemeriksaan tersebut menunjukkan angka 94 ke bawah, berarti Anda mengalami kekurangan oksigen di dalam darah (hypoxemia) atau kurang oksigen di dalam jaringan (hypoxia).

Nah, jika hasil pemeriksaan saturasi 94 ke bawah, tetapi tidak memiliki keluhan atau gejala fisik apapun, maka Anda mengalami happy hypoxia atau silent hypoxemia. Agus berkata, happy hypoxia atau silent hypoxemia ini menjadi berbahaya, karena pasien yang merasa tidak ada gejala, umumnya tidak segera mendapat penanganan medis, sehingga bisa dengan tiba-tiba mengalami sesak napas yang dapat berakibat fatal pada kematian.

Ketika kadar oksigen yang rendah di dalam darah tidak segera diberikan tindakan suplementasi oksigen atau terapi lain, untuk meningkatkan kembali kadar oksigen, alhasil saat infeksinya di paru meluas dan hipoksianya bertambah berat, pasien baru akan merasa sesak napas saat kadar oksigennya sudah terlalu rendah. Itu sebabnya, ketika dibawa ke rumah sakit, seringkali kondisinya sudah tidak bisa teratasi, karena sudah sangat parah. Apa yang harus dilakukan jika ada indikasi hypoxemia atau hypoxia?

Agus menegaskan, bahwa happy hypoxia inilah yang menyebabkan pasien Covid-19 meninggal dunia, padahal sebelumnya terlihat tidak memiliki gejala. Sehingga, masyarakat atau pasien yang saat ini sudah terlanjur terinfeksi Covid-19 dan merasa tidak ada gejala, tetap harus memastikan kondisi diri dengan melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh, termasuk orang tanpa gejala. Adapun, beberapa cara medis untuk mendiagnosis hipoksia atau hipoksemia bisa dilakukan dengan beberapa tes berikut: - Tes oksimetri - Tes darah lengkap - Tes fungsi paru - Analisis gas darah - Elektrokardiogram (EKG) - Foto rontgen atau CT Scan pada dada - CT Scan atau MRI pada kepala - Echo jantung

Setelah pemeriksaan, tenaga medis akan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan berdasarkan analisis hasil pemeriksaan. Jika memang tidak bergejala dan hasil pemeriksaan juga menunjukkan tidak adanya temuan pneumonia ataupun hipoksemia, maka tenaga medis biasanya akan menyarankan untu melakukan isolasi mandiri di rumah. Sebaliknya, jika nyatanya ditemukan pneumonia ataupun hipoksemia, tenaga medis akan menyarankan untuk mengambil tindakan terapi atau perawatan untuk mengatasinya. Terapi yang akan diberikan pun beragam tergantung dengan kondisi dan hasil evaluasi pemeriksaan, bisa berupa terapi tambahan oksigen melalui masker atau selang hidung, terapi hiperbarik, dan juga bisa dengan alat bantu napas (ventilator). Baca juga: Ahli Sebut Gejala Happy Hypoxia Sudah Muncul di Indonesia Sejak Maret

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pasien Covid-19 Terindikasi Happy Hypoxia, Apa yang Harus Dilakukan?", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/08/130300523/pasien-covid-19-terindikasi-happy-hypoxia-apa-yang-harus-dilakukan-?page=2.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved