Breaking News:

Bisnis Techno

Non-aktifkan Facebook Bakal Dibayar Rp 1,7 Juta Per Minggu, Mau?

Menurut juru bicara Facebook, Liz Bourgeois, hanya pengguna terpilih saja yang mendapat penawaran menarik Ini

TribunStyle.com/ Instagram
Instagram dan Facebook 

Editor : Didik Trio Marsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID - Cara dapatkan tawaran menguntungkan dari Facebook.Inc, pengguna media sosial harus lakukan ini.

Facebook saat ini menawarkan kompensasi hingga 120 dollar AS atau sekitar Rp 1,7 juta (kurs rupiah saat berita ini ditulis) bagi pengguna jejaring Facebook dan Instagram yang bersedia menon-aktifkan (deactive) akun mereka pada akhir September.

Tawaran ini merupakan bagian dari penelitian yang akan digelar Facebook untuk menilai dampak media sosial pada pemilihan umum Amerika Serikat yang akan berlangsung 3 November mendatang.

Tidak semua pengguna mendapat kesempatan ini. Menurut juru bicara Facebook, Liz Bourgeois, hanya pengguna terpilih saja yang mendapat penawaran.

Sebar Foto Mantan Tanpa Busana di Facebook, Pemuda di Kapuas Diamankan Polisi

VIRAL Akun Facebook Pakai Nama Ayah Nagita Slavina, Singgung Rieta Amilia dan Caca Tengker

Tips Beli Yamaha RX-King, Jangan Kecele, Begini Cara Kenali Barang Orisinil

"Siapapun yang memilih untuk ikut serta - entah mengisi survei atay menon-aktifkan akun Facebook atau Instagram untuk periode tertentu - akan diberi kompensasi. Ini standar dalam penelitian akademis" kata Bourgeois.

Kompensasi yang ditawarkan bervariasi. Mulai dari 10-60 dollar AS (sekitar Rp 150.000-Rp 889.000) per minggu, 15-90 dollar AS (sekitar Rp 222.000-Rp 1,3 juta) per minggu, dan 20-120 dollar AS (sekitar Rp 296.000-Rp 1,7 juta) per minggu.

Selain menon-aktifkan akun, pengguna juga akan diminta mengisi survei setelah pemilu 3 November. Survei akan diberikan sebelum mereka mengaktifkan kembali akunnya. Facebook menargetkan ada 200.000 hingga 400.000 pengguna yang akan berpartisipasi.

"Anggota dewan, sampel dari orang-orang AS akan dipilih dan diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Beberapa calon peserta akan mendapat pemberitahuan di Facebook atau Instagram untuk mengundang mereka dalam studi ini," jelas Facebook.

Nantinya, lanjut perwakilan Facebook, sampel penelitian akan dirancang sedemikian rupa agar merepresentasikan keragaman populasi orang dewasa di AS serta pengguna Facebook dan Instagram. Hasil studi rencananya baru akan dirilis tahun depan.

"Untuk terus memperkuat semua hal baik untuk demokrasi di media sosial dan mengurangi hal-hal yang buruk, kami butuh penelitian yang lebih obyektif, tidak memihak, dan didasarkan secara empiris," jelas Facebook, dirangkum KompasTekno dari New York Post, Rabu (9/9/2020).

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved