Breaking News:

Berita Banjarmasin

Pembelajaran Tatap Muka Diberlakukan, Begini Pandangan Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM

Pemerintah pusat memberikan sinyal bagi pemerintah daerah untuk memperbolehkan sekolah menggelar pembelajaran tatap muka.

Foto ULM Untuk Bpost
Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran ULM, Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pemerintah pusat memberikan sinyal bagi pemerintah daerah untuk memperbolehkan sekolah-sekolah khususnya yang berada di zona hijau penyebaran Covid-19 kembali menggelar kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka.

Namun, mayoritas Pemerintah kabupaten/kota di Kalsel meskipun sudah ada beberapa daerahnya berzona hijau, belum memberikan izin pelaksanaan belajar-mengajar tatap muka di sekolah.

Kekhawatiran munculnya klaster-klaster Covid-19 di sekolah-sekolah pun menjadi hal yang dicermati oleh Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Menurut Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, Prof. Dr.dr. Syamsul Arifin, berdasarkan data WHO 17 Agustus 2020, secara global proporsi usia anak dan remaja yang terinfeksi  Covid-19 naik, yaitu pada anak dari 0,8 persen menjadi 4,6 persen dan pada remaja dari 4,5 persen menjadi 15 persen.

Zona Hijau Mendominasi Banjarmasin, Ibnu Sina : Pembelajaran Tatap Muka Akan Dievaluasi Oktober Ini

Terkait Pembelajaran Tatap Muka di Kabupaten Batola, Disdik Batola Tunggu Keputusan Bupati

GTPP Covid-19 Kabupaten Banjar Larang Sekolah Lakukan Pembelajar Tatap Muka

Data Covid-19 pada anak di Indonesia berdasarkan data satgas Covid-19  pada tanggal 17 Agustus 2020  untuk usia 0-5 tahun sebanyak 2,4 persen dan anak usia 6-18 tahun sebanyak 6,8 persen.

Angka ini lebih rendah dari angka insidensi di dunia, akan tetapi angka kematian pada anak akibat Covid-19 di Indonesia yaitu sebesar 1,1 persen lebih tinggi dibandingkan negara lain di Asia Pasifik, seperti Korea Selatan, China berkisar 0-0,2 persen.

Tingginya angka kematian tersebut menjadi bayang-bayang buruk bagi seluruh orang tua, apalagi Pemerintah membuka kembali kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka di wilayah yang berstatus zona hijau atau zona aman penyebaran (Covid-19) pada tahun ajaran baru 2020/2021.
      
Kekuatiran ini beralasan, karena  beberapa laporan menunjukkan banyak bermunculan klaster sekolah, seperti yang telah diberitakan antara lain klaster sekolah Tuluangung, klaster sekolah Lumajang, kalster sekolah Kalimantan Barat, Klaster sekolah Tegal, Klaster sekolah Sumedang,Klaster sekolah Pati, Klaster sekolah Balikpapan dan klaster sekolah Rembang.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya klaster-klaster tersebut.

Pertama, anak-anak cenderung tidak bergejala, mereka mungkin juga lebih kecil kemungkinannya untuk diidentifikasi sebagai kasus selama penyelidikan pelacakan kontak dan oleh karena itu peran mereka dalam penularan mungkin kurang dikenali

Halaman
12
Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved